MAKALAH KIMIA PENENTUAN KADAR VITAMIN C (ASAM ASKORBAT)




PENENTUAN KADAR VITAMIN C
 (ASAM ASKORBAT)



OLEH:

HELMITAR YULIA
NO.BP.15252331025


DOSEN PEMBIMBING:
SRI KEMBARYANTI PUTRI ST., M. ENG.










PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PANGAN
JURUSAN TEKNOLOGI PERTANIAN
POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI PAYAKUMBUH
PAYAKUMBUH
2015

LATAR BELAKANG
            Vitamin merupakan zat kompleks yang memang dibutuhkan oleh tubuh kita karena bisa membantu dalam pengaturan maupun proses kegiatan di dalam tubuh. Termasuk salah satunya adalah vitamin C. Seperti yang kita tahu vitamin C bisa memberikan kekebalan pada tubuh, hal ini tergantung dari penentuan kadar vitamin C ada seberapa banyak yang dibutuhkan oleh tubuh.
            Banyak orang yang menanyakan penentuan kadar vitamin C, namun kita tahu bahwa vitamin C dibutuhkan oleh tubuh itu untuk sintesis kolagen maupun berperan dalam sintetis norepinefrin dan neurotransmitter. Untuk dosis harian vitamin C setiap orang memang tidak sama. Hal ini tergantung dari jenis kelamin maupun usia seseorang. Untuk memperoleh fungsi dari vitamin C, bagi pria dewasa setidaknya memerlukan 90 mg vitamin C per hari.
            Untuk kebiasaan merokok maka bisa menghilangkan vitamin C sebanyak 25% dalam darah, Sehingga menjadikannya memerlukan tambahan vitamin hingga 30 mg tiap harinya. Selain itu kebiasaan berolah raga juga bisa meningkatkan kebutuhan seseorang akan vitamin C.
            Sementara untuk wanita dewasa sebanyak 75 mg. Untuk anak laki-laki maupun perempuan dengan rentan usia 14-18 tahun memerlukan asupan 65 mg vitamin C setiap harinya. Selain itu kebutuhan akan vitamin C juga dipengaruhi oleh kebiasaan setiap individu seperti minum kopi, merokok, minum minuman keras maupun kebiasaan akan mengonsumsi obat-obat tertentu.
            Dalam bahan pangan hanya terdapat vitamin dalam jumlah relatif sangat kecil, dan terdapat dalam bentuk yang berbeda-beda, diantaranya ada yang berbentuk provitamin atau calon vitamin (precursor) yang dapat diubah dalam tubuh menjadi vitamin yang aktif. Segera setelah diserap oleh tubuh provitamin akan mengalami perubahan kimia sehingga menjadi satu atau lebih bentuk yang aktif.
            Vitamin C adalah salah satu zat gizi yang berperan sebagai antioksidan efektif atau mengatasi radikal bebas yang dapat merusak sel atau jaringan,termasuk melindungi lensa dari kerusakan oksidatif yang ditimbulkan oleh radiasi.
            Status vitamin C seseorang sangat tergantung dari usia,jenis kelamin,asupan Vitamin C harian,kemampuan absorpsi dan ekskresi,serta adanya penyakit tertentu.
            Rendahnya asupan serat dapat mempengaruhi asupan Vitamin C karena bahan makanan sumber serat seperti sayuran dan buah buahan juga merupakan sumber Vitamin C (Narins,1996).Sampai saat ini angka pervalensi penderita defisiensi vitamin C di Indonesia belum ada .Survey nasional tahun 1988-1994 yang dilakukan di Amerika Serikat mendapatkan 10-13% penduduk menderita defisiensi Vitamin C.
            Matilainen dkk,(1996) melakukan penelitian dengan membandingkan kadar vitamin C plasma di dua tempat berbeda .Hasilnya terdapat perbedaan kadar vitamin C pada kedua tempat  tersebut.Perbedaan tersebut dihubungkan dengan perbedaan konsumsi sayur dan buah,dimana kadar vitamin C plasma lebih tinggi bila mengkonsumsi buah dan sayur setiap hari,dibandingkan dengan subjek yang lebih banyak mengkonsumsi dalam bentuk yang sudah diolah.
            Salah satu produk pangan yang sudah diolah dalam bentuk kemasan,yang saat ini sedang mencuat dipasaran adalah minuman ringan jenis buah kemasan.Minuman buah kemasan ini sangat mudah dijumpai di pusat-pusat perbelanjaan.Manusia mutlak memerlukan vitamin C dari luar tubuh untuk memenuhi kebutuhannya.
            Pada kenyataannya,masyarakat lebih memilih minuman buah kemasan dibandingkan dengan mengkonsumsi vitamin C pada buah alami,hal ini dikarenakan minuman buah kemasan yang mudah ditemukan dimanapun dan penggunaanya yang relative lebih praktis.Tetapi kandungan vitamin C dalam label kemasan minuman buah tersebut diduga tidak sesuai dengan apa yang tertera pada kemasan.Oleh karena itu,diperlukannya pengawasan yang merupakan salah satu bentuk upaya untuk melindungi konsumen dari informasi label yang tidak benar.
           





PERMASALAHAN
1.Apa itu Vitamin ?
Vitamin merupakan suatu molekul organik yang sangat diperlukan tubuh untuk proses metabolisme dan pertumbuhan yang normal. Vitamin tidak dapat dihasilkan oleh tubuh manusia dalam jumlah yang cukup, oleh karena itu harus diperoleh dari bahan pangan yang dikonsumsi. Terkecuali pada vitamin D, yang dapat dibentuk dalam kulit jika kulit mendapat sinar matahari.
2.Apa itu vitamin C ?
Vitamin C adalah salah satu jenis vitamin yang larut dalam air dan memiliki peranan penting dalam menangkal berbagai penyakit.Vitamin ini juga dikenal dengan nama kimia dari bentuk utamanya yaitu asam askorbat. Vitamin C termasuk golongan vitamin antioksidan yang mampu menangkal berbagai radikal bebas ekstraselular. Beberapa karakteristiknya antara lain sangat mudah teroksidasi oleh panas, cahaya, dan logam. Meskipun jeruk dikenal sebagai buah penghasil vitamin C terbanyak, sebenarnya salah besar, karena lemon memiliki kandungan vitamin C lebih banyak 47&% daripada jeruk.
3.Bagaimana sifat vitamin C ?
Sifat-sifat vitamin C adalah: Vitamin C merupakan vitamin yang paling mudah rusak dan Vitamin C mudah teroksidasi dan proses tersebut dipercepat oleh panas, sinar, alkali, enzim, oksidator, serta oleh katalis tembaga dan besi.
4.Bagaimana susunan kimia vitamin C ?
Asam askorbat (vitamin C) adalah turunan heksosa dan diklasifikasikan sebagai karbohidrat yang erat kaitannya dengan monosakarida. Vitamin C dapat disintesis dari D-glukosa dan D-galaktosa dalam tumbuh-tumbuhan dan sebagian besar hewan. Vitamin C terdapat dalam dua bentuk di alam, yaitu L-asam askorbat (bentuk tereduksi) dan L-asam dehidro askorbat (bentuk teroksidasi).



5.Bagaimana Metabolisme Vitamin C ?
Vitamin C mudah diabsorbsi secara aktif dan mungkin pula secara difusi pada bagian atas usus halus lalu masuk ke peredaran darah melalui vena porta. Rata-rata arbsorbsi adalah 90% untuk konsumsi diantara 20-120 mg/hari. Konsumsi tinggi sampai 12 gram hanya diarbsorbsi sebanyak 16%. Vitamin C kemudian dibawa ke semua jaringan. Konsentrasi tertinggi adalah di dalam jaringan adrenal, pituitary, dan retina. Vitamin C di ekskresikan terutama melalui urin,sebagian kecil di dalam tinja dan sebagian kecil di ekskresikan melaului kulit.
6.Apa fungsi vitamin C ?
Vitamin C mempunyai fungsi yang banyak dalam kesehatan,yaitu diantaranya melawan kanker,memperbaiki kulit,meningkatkan mood,menurunkan serangan jantung,mengontrol tekanan darah,mencegah stroke,mencengah diabetes,dan mencengah katarak.
7.Dari mana sumber vitamin C ?
                   Sumber vitamin C sebagian besar berasal dari sayuran dan buah-buahan, terutama buah-buahan segar. Karena itu vitamin C sering disebut Fresh Food Vitamin. Buah yang masih mentah lebih banyak kandungan vitamin C-nya; semakin tua buah semakin berkurang kandungan vitamin C-nya.
8.Bagaimana kelebihan dan kekurangan Vitamin C ?
Kelebihan vitamin  C yang berasal dari makanan tidak menimbulkan gejala. Tetapi konsumsi vitamin C berupa suplemen secara berlebihan setiap harinya akan menimbulkan hiperoksaluria dan risiko lebih tinggi untuk menderita batu ginjal dan Kekurangan banyak vitamin C berakibat pada sistem syaraf dan ketegangan otot. Hal ini dapat menyebabkan kerusakan otot seperti juga rasa nyeri, gangguan syaraf dan depresi. Gejala selanjutnya adalah anemia, sering terkena infeksi, kulit kasar dan kegagalan dalam menyembuhkan luka.
9.Bagaimana cara menentukan kadar vitamin C ?
Penentuan kadar vitamin C dapat dilakukan dengan beberapa metode yaitu metode spektrofotometri,oksidimetri,dan kolorimetri.

PEMBAHASAN
1.Pengertian Vitamin
            Vitamin merupakan suatu molekul organik yang sangat diperlukan tubuh untuk proses metabolisme dan pertumbuhan yang normal. Vitamin tidak dapat dihasilkan oleh tubuh manusia dalam jumlah yang cukup, oleh karena itu harus diperoleh dari bahan pangan yang dikonsumsi. Terkecuali pada vitamin D, yang dapat dibentuk dalam kulit jika kulit mendapat sinar matahari (Achmad,1987).
2.Pengertian vitamin C
            Asam askorbat merupakan salah satu senyawa dari kimia yang akan membentuk vitamin C . Asam askorbat ini memiliki bentuk bubuk kristal dengan warna kuning yang keputihan dan senyawa kimia ini akan larut jika berada di dalam air serta senyawa ini juga memiliki sifat dari antioksidan (Achmad,1987).
            Asam askorbat merupakan ester siklik. Dalam larutan air mudah teroksidasi (reaksinya bolak-balik) membentuk asam dehidro-askorbat. Asam askorbat bersifat sangat sensitif terhadap pengaruh-pengaruh luar yang menyebabkan kerusakan seperti suhu, konsentrasi gula dan garam, pH, oksigen, enzim, dan katalisator logam (Belleville-Nabet 1996). Asam dehidro-askorbat dapat mengalami hidrolisis lebih lanjut membentuk produk degradasi yang bereaksi tidak bolak-balik asam diketoglukonat dan asam oksalat. Suatu larutan asam askorbat 5% dalam air memiliki pH 2.1-2.6, pH dari 10% larutan kalsium askorbat dalam air adalah antara 6.8 dan 7.4, dan pH dari larutan natrium askorbat dalam air antara 7.0 dan 8.0 (Suhartono, 2007).
            Vitamin C sendiri merupakan jenis vitamin yang akan larut jika berada di dalam air dan memiliki sebuah peranan yang sangat penting untuk menangkal suatu penyakit. Vitamin C ini biasa di kenal dengan nama dari kimianya yaitu asam askorbat. Vitamin C ini juga merupakan suatu golongan vitamin antioksidan, vitamin C ini mampu menangkal berbagai macam radikal bebas (Achmad,1987).

            Beberapa karakteristik dari vitamin C antara lain sangat mudah teroksidasi oleh panas,cahaya,dan logam.  Dan disebut juga vitamin antiskorbut (sariawan).  Sumber Vitamin C sebagian besar berasal dari sayur-sayuran dan buah-buahan. Asupan gizi rata-rata sehari sekitar 30 sampai 100 mg vitamin C yang dianjurkan untuk orang dewasa (Achmad,1987).
3.Sifat vitamin C
            Sifat-sifat vitamin C adalah: Vitamin C merupakan vitamin yang paling mudah rusak dan Vitamin C mudah teroksidasi dan proses tersebut dipercepat oleh panas, sinar, alkali, enzim, oksidator, serta oleh katalis tembaga dan besi (F.G Winarno,2003).                              
            Berikut ini akan kami jabarkan mengenai sifat-sifat dari asam askorbat atau yang biasa di kenal dengan vitamin C:
– Pada asam askorbat ini akan menunjukkan suatu metallo-enzim yang akan larut jika berada di dalam garam dan akan memiliki berat molekul kurang lebih 150.000
– Suatu ko-enzim akan mengandung enam atom tembaga pada setiap molekul proteinnya.
– Dengan naiknya suatu kadar tembaga maka elemen ini akan membentuk bagian dari enzim.
– Dengan sebuah kenaikan suatu suhu 10 drajat celcius maka jumlah dari vitamin akan mengalami dioksidasi 2 hingga mencapai 2,5 setiap kali naiknya. Aktivitas akan optimal akan di dapat apa bila suhu mencapai 38 derajat celcius.
– Asam askorbat ini memiliki peran yang cukup luas yaitu dari PH 4 hingga 7 dan akan berpengaruh secara maksimal apabila Ph mencapai 5,6 hingga 6,00 dan apabila Ph di turun kan maka sebuah enzim akan menjadi inaktif (Haryadi,2012).
4.Susunan kimia vitamin C
            Asam askorbat (vitamin C) adalah turunan heksosa dan diklasifikasikan sebagai karbohidrat yang erat kaitannya dengan monosakarida. Vitamin C dapat disintesis dari D-glukosa dan D-galaktosa dalam tumbuh-tumbuhan dan sebagian besar hewan. Vitamin C terdapat dalam dua bentuk di alam, yaitu L-asam askorbat (bentuk tereduksi) dan L-asam dehidro askorbat (bentuk teroksidasi).
            Oksidasi bolak-balik L-asam askorbat menjadi L-asam dehidro askorbat terjadi apabila bersentuhan dengan tembaga, panas, atau alkali (Akhilender, 2003).


Gambar 2.1.3. Struktur kimia Vitamin C
5.Metabolisme Vitamin C
            Vitamin C mudah diabsorbsi secara aktif dan mungkin pula secara difusi pada bagian atas usus halus lalu masuk ke peredaran darah melalui vena porta. Rata-rata arbsorbsi adalah 90% untuk konsumsi diantara 20-120 mg/hari. Konsumsi tinggi sampai 12 gram hanya diarbsorbsi sebanyak 16%. Vitamin C kemudian dibawa ke semua jaringan. Konsentrasi tertinggi adalah di dalam jaringan adrenal, pituitary, dan retina. Vitamin C di ekskresikan terutama melalui urin,sebagian kecil di dalam tinja dan sebagian kecil di ekskresikan melaului kulit.
            Tubuh dapat menyimpan hingga 1500 mg vitamin C bila dikonsumsi mencapai 100 mg/hari. Status vitamin C di dalam tubuh ditetapkan melalui tanda-tanda klinik dan pengukuran kadar vitamin C di dalam darah. Tanda- tanda klinik antara lain, perdarahan gusi dan perdarahan kapiler di bawah kulit. Tanda-tanda dini kekurangan vitamin C dapat diketahui apabila kadar vitamin C darah di bawah 0,20 mg/dl (Sunita, 2004).
6.Fungsi vitamin C
            Vitamin C mempunyai banyak fungsi di dalam tubuh. Pertama, fungsi vitamin C adalah sebagai sintesis kolagen. Karena vitamin C mempunyai kaitan yang sangat penting dalam pembentukan kolagen. Karena vitamin C diperlukan untuk hidroksilasi prolin dan lisin menjadi hidroksiprolin yang merupakan bahan penting dalam pembentukan kolagen. Kolagen merupakan senyawa protein yang mempengaruhi integritas struktur sel di semua jaringan ikat, seperti pada tulang rawan, matriks tulang, gigi, membrane kapiler, kulit dan tendon. Dengan demikian maka fungsi vitamin C dalam kehidupan sehari-hari berperan dalam penyembuhan luka, patah tulang, perdarahan di bawah kulit dan perdarahan gusi. Asam askorbat penting untuk mengaktifkan enzim prolil hidroksilase, yang menunjang tahap hidroksilasi dalam pembentukan hidroksipolin, suatu unsure integral kolagen. Tanpa asam askorbat, maka serabut kolagen yang terbentuk di semua jaringan tubuh menjadi cacat dan lemah. Oleh sebab itu, vitamin ini penting untuk pertumbuhan dan kekurangan serabut di jaringan subkutan, kartilago, tulang, dan gigi (Guyton, 2007).
            Fungsi yang kedua adalah absorbsi dan metabolisme besi, vitamin C mereduksi besi menjadi feri dan menjadi fero dalam usus halus sehingga mudah untuk diabsorbsi. Vitamin C menghambat pembentukan hemosiderin yang sulit dibebaskan oleh besi apabila diperlukan. Absorbsi besi dalam bentuk nonhem meningkat empat kali lipat apabila terdapat vitamin C. Fungsi yang ketiga adalah mencegah infeksi, Vitamin C berperan dalam meningkatkan daya tahan tubuh terhadap infeksi. Pauling (1970) pernah mendapat hadiah nobel dengan bukunya Vitamin C and the common cold, di mana pauling mengemukakan bahwa dosis tinggi vitamin C dapat mencegah dan menyembuhkan serangan flu (Pauling, 1971).
            Penelitian menunjukkan bahwa vitamin C memegang peranan penting dalam mencegah terjadinya aterosklerosis. Vitamin C mempunyai hubungan dengan metabolisme kolesterol. Kekurangan vitamin C menyebabkan peningkatan sintesis kolesterol. Peran Vitamin C dalam metabolism kolesterol adalah melalui cara: 1) vitamin C meningkatkan laju kolesterol dibuang dalam bentuk asam empedu, 2) vitamin C meningkatkan kadar HDL, tingginya kadar HDL akan menurunkan resiko menderita penyakit aterosklerosis, 3) vitamin C dapat berfungsi sebagai pencahar sehingga dapat meningkatkan pembuangan kotoran dan hal ini akan menurunkan pengabsorbsian kembali asam empedu dan konversinya menjadi kolesterol (Khomsan, 2010).
            Studi yang dilakukan WHO (1976) meyimpulkan bahwa progresi pengapuran koroner bertambah sebesar 3% per tahun sejak usia seseorang melewati 20 tahun. Kenyataan ini membuktikan bahwa progresivitas pengapuran pembuluh koroner sesungguhnya memang menggulir secara tersembunyi dan menimbulkan bahaya yang bersifat laten. Penelitian klinis menunjukkan bahwa vitamin C menurunkan kolesterol dan trigliserida pada orang-orang yang mempunyai kadar kolesterol yang tinggi, tetapi tidak pada orang-orang yang mempunyai kadar kolesterol yang normal. Ini membuktikan bahwa vitamin C berperan sebagai homeostatis untuk mencapai. Konsumsi vitamin C 1g per hari setelah tiga bulan akan menurinkan kolesterol 10% dan trigliserida 40% (Khomsan, 2010).
7.Sumber vitamin C
            Sumber vitamin C sebagian besar berasal dari sayuran dan buah-buahan, terutama buah-buahan segar. Karena itu vitamin C sering disebut Fresh Food Vitamin. Buah yang masih mentah lebih banyak kandungan vitamin C-nya; semakin tua buah semakin berkurang kandungan vitamin C-nya (Achmad,1987).
            Mengkonsumsi buah dalam keadaan segar jauh lebih baik dari buah yang sudah diolah. Pengolahan pada buah-buahan dengan menggunakan panas, akan mengakibatkan kerusakan pada vitamin C. Vitamin C mudah larut dalam air dan mudah rusak oleh oksidasi, panas, dan alkali. Karena itu agar vitamin C tidak banyak hilang, sebaiknya pengirisan dan penghancuran yang berlebihan dihindari
(Achmad,1987).
            Buah jeruk, baik yang dibekukan maupun yang dikalengkan merupakan sumber vitamin C yang tinggi. Demikian juga halnya berries, nenas, dan jambu. Beberapa buah tergolong buah yang tidak asam seperti pisang, apel, pear, dan peach rendah kandungan vitamin C-nya, apalagi bila produk tersebut dikalengkan
(Achmad,1987).
            Bayam, brokoli, cabe hijau, dan kubis juga merupakan sumber vitamin C yang baik, bahkan juga setelah dimasak
(Achmad,1987).
            Sebaliknya beberapa jenis bahan pangan hewani seperti susu, telur, daging, ikan, dan unggas sedikit sekali kandungan vitamin C-nya
(Achmad,1987).
            Air susu ibu yang sehat mengandung enam kali lebih banyak vitamin C dibandingkan susu sapi. Pemberian ASI yang teratur dan sesuai dengan kebutuhan bayi dan balita membantu memnuhi kebutuhan tubuhnya akan vitamin C. Vitamin C mudah diperoleh jika mengkonsumsi makanan dengan benar
(Achmad,1987).
            Konsumsi bahan sayuran dan buah dalam keadaan segar, dapat menyediakan kebutuhan tubuh akan vitamin ini. Hanya saja terkadang kita sering kurang memperhatikan cara pengolahan bahan yang benar, sehingga vitamin C rusak dan terbuang percuma
(Achmad,1987).
            Saat proses merebus sayuran, guna mempertahankan kesegaran warna sering ditambahkan baking soda. Penambahan baking soda pada saat memasak sayuran,  dapat merusak kandungan vitamin C pada sayuran. Oleh karena itu sebaiknya dalam pengolahan sayuran tidak menggunakan bahan tambahan yang dapat merusak kandungan zat gizi
(Achmad,1987).
            Berikut ini penentuan kadar vitamin C per 100 gram dari sumber-sumber vitamin C yang ada,termasuk yang paling banyak terdapat pada buah-buahan seperti :
– Buah kiwi = 100mg per 100gram buah.
– Buah jeruk = 53mg per 100gram buah.
– Buah jambu = 183mg per 100gram buah.
– Buah anggur = 34mg per 100gram buah.
– Buah nanas = 15mg per 100gram buah.
– Buah pisang = 9mg per 100gram buah.
– Buah pepaya = 62mg per 100gram buah.
– Buah melon = 42mg per 100gram buah.







Tabel 1. Kandungan vitamin C pada beberapa jenis sayuran
No
Sayuran
Jumlah
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
Bayam dan tekokak Daun katuk
 Daun kelor
singkong
Daun talas
Daun lobak
Daun melinjo
 Daun oyong :
Peterseli
Sawi
80 mg / 100 gr
239 mg / 100 gr
220 mg / 100 gr
275 mg / 100 gr
163 mg / 100 gr
109 mg / 100 gr
182 mg / 100 gr
150 mg / 100 gr
193 mg / 100 gr
102 mg / 100 gr
Sumber : Achmad (1987).
8.Kelebihan dan kekurangan Vitamin C
            Skorbut dalam bentuk berat sekarang jarang terjadi,karena sudah diketahui cara mencegah dan mengobatinya. Tanda-tanda awal antara lain adalah lemah, nafas pendek, kejang otot, tulang dan persendian sakit serta berkurangnya nafsu  makan, kulit menjadi kering, kasar, dan gatal, warna merah kebiruan di bawah kulit, perdarahan gusi, kedudukan gigi menjadi longgar, mulut dan mata kering dan rambut rontok. Di samping itu luka akan menjadi sulit sembuh. Gejala skorbut akan terlihat apabila taraf asam askorbat dalam serum menurun di bawah 0,20 mg/dl.
            Kekurangan asam askorbat juga menyebabkan terhentinya pertumbuhan tulang. Sel dari epifise yang sedang tumbuh terus berproliferasi, tetapi tidak ada kolagen baru yang terdapat diantara sel, dan tulang mudah fraktur pada titik pertumbuhan karena kegagalan tulang untuk berosifikasi. Juga, apabila terjadi fraktur pada tulang yang sudah terosifikasi pada pasien dengan defisiensi asam askorbat, maka osteoblas tidak dapat membentuk matriks tulang yang baru, akibatnya tulang yang mengalami fraktur tidak dapat sembuh. Pada skorbut (defisiensi vitamin C) dapat meyebabkan dinding pembuluh darah menjadi sangat rapuh karena terjadinya kegagalan sel endotel untuk saling merekat satu sama lain dengan baik dan kegagalan untuk terbentuknya fibril kolagen yang biasanya terdapat di dinding pembuluh darah (Guyton, 2007).
Kekurangan banyak vitamin C berakibat pada sistem syaraf dan ketegangan otot. Hal ini dapat menyebabkan kerusakan otot seperti juga rasa nyeri, gangguan syaraf dan depresi. Gejala selanjutnya adalah anemia, sering terkena infeksi, kulit kasar dan kegagalan dalam menyembuhkan luka. Ketika seseorang mengkonsumsi sejumlah besar vitamin C dalam bentuk suplemen dalam jangka panjang, tubuh menyesuaikannya dengan menghancurkan dan mengeluarkan kelebihan vitamin C dari pada biasanya. Jika konsumsi kemudian secara tiba-tiba dikurangi, tubuh tidak akan menghentikan proses ini, sehingga menyebabkan penyakit kudisan. Selain itu, gejala keracunan vitamin C adalah mual, kejang perut, diare, sakit kepala, kelelahan dan susah tidur. Hal ini juga dapat menyebabkan terbentuknya batu ginjal (Zakaria 1996).
            Kelebihan vitamin C yang berasal dari makanan tidak menimbulkan gejala. Tetapi konsumsi vitamin C berupa suplemen secara berlebihan setiap harinya akan menimbulkan hiperoksaluria dan risiko lebih tinggi untuk menderita batu ginjal (Sunita, 2004).
9.Cara menentukan kadar vitamin C
a.  Metode spektrofotometri
            Spektrofotometri adalah suatu metode analisis yang berdasarkan pada pengukuran serapan sinar monokromatis oleh suatu lajur larutan berwarna pada panjang gelombang yang spesifik dengan menggunakanmonokromator prisma atau kisi difraksi dan detector vacuum phototubeatau tabung foton hampa. Alat yang digunakan adalah spektrofotometer,yaitu sutu alat yang digunakan untuk menentukan suatu senyawa baik secara kuantitatif maupun kualitatif dengan mengukur transmitan ataupunabsorban dari suatu cuplikan sebagai fungsi dari konsentrasi. Pada titrasispektrofotometri, sinar yang digunakan merupakan satu berkas yangpanjangnya tidak berbeda banyak antara satu dengan yang lainnya,sedangkan dalam kalorimetri perbedaan panjang gelombang dapat lebihbesar. Dalam hubungan ini dapat disebut juga spektrofotometri adsorpsiatomic (Harjadi, 1990).
            Spektrometer menghasilkan sinar dari spectrum dengan panjang gelombang tertentu dan fotometer adalah alat pengukur intensitas cahayayang ditransmisikan atau diabsorbsi. Kelebihan spectrometerdibandingkan fotometer adalah panjang gelombang dari sinar putih dapatlebih terseleksi dan ini diperoleh dengan alat pengurai seperti prisma,grating, atau celah optis. Pada fotometer filter dari berbagai warna yangmempunyai spesifikasi melewatkan trayek panjang gelombang tertentu.Pada fotometer filter tidak mungkin diperoleh panjang gelombang yangbenar-benar monokromatis, melainkan suatu trayek panjang gelombang30-40 nm. Sedangkan pada spektrofotometer, panjang gelombang yangbenar-benar terseleksi dapatdiperoleh dengan bantuan alat pengurai cahaya seperti prisma.
            Suatu spektrofotometer tersusun dari sumber spektrumtampak yang kontinyu, monokromator, sel pengabsorbsi untuk larutansampel atau blanko dan suatu alat untuk mengukur perbedaan absorbsiantara sampel dan blanko ataupun pembanding seperti prisma. Suatu spektrofotometer tersusun dari sumber spektrumtampak yang kontinyu, monokromator, sel pengabsorbsi untuk larutansampel atau blanko dan suatu alat untuk mengukur perbedaan absorbsiantara sampel dan blanko ataupun pembanding (Khopkar, 2002).
 Pereaksi yang digunakan pada penetapan kadar vitamin C dengan metode spektrofotometri antara lain asam oksalat atau asam metafosfat dan diklorofenol indofenol. Sebagai reduktor, asam askorbat akan mendonorkan satu elektron membentuk semidehidroaskorbat yang tidak bersifat reaktif dan selanjutnya mengalami reaksi disproporsionasi membentuk dehidroaskorbat yang bersifat tidak stabil. Dehidroaskorbat akan terdegradasi membentuk asam oksalat dan asam treonat.
Asam oksalat adalah senyawa kimia yang memiliki rumus H2C2O4 dengan nama sistematis asam etanadioat. Asam dikarboksilat paling sederhana tersebut biasa digambarkan dengan rumus HOOC-COOH (Belleville-Nabeet 1996). Banyak ion logam yang membentuk endapan tak larut dengan asam oksalat, contoh terbaik adalah kalsium oksalat (CaOOC-COOCa), yaitu penyusun utama jenis batu ginjal yang sering ditemukan. Adapun asam oksalat maupun asam metafosfat itu sendiri berperan dalam membuat larutan sampel dalam kondisi asam sehingga reaksi antara larutan sampel vitamin C dengan larutan diklorofenol ondofenol dapat berlangsung optimal (Hashmi 1986).
Larutan 2,6-diklorofenol indofenol dapat mengalami berbagai perubahan warna sesuai reaksi yang dialaminya. Larutan tersebut dalam suasana netral atau basis akan berwarna biru, sedangkan dalam suasana asam akan berwarna merah muda. Apabila 2,6-diklorofenol indofenol direduksi oleh asam askorbat maka akan menjadi tidak berwarna dan apabila semua asam askorbat sudah mereduksi 2,6-diklorofenol indofenol maka kelebihan larutan 2,6-diklorofenol indofenol sedikit saja sudah akan terlihat dengan terjadinya pewarnaan. Untuk perhitungan maka perlu dilakukan standarisasi larutan dengan vitamin C standar (Sudarmadji,1996).
Dalam bahan pangan hanya terdapat vitamin dalam jumlah relatif sangat kecil dan terdapat dalam bentuk yang berbeda-beda. Vitamin dapat berbentuk provitamin atau calon vitamin (precursor) yang dapat diubah dalam tubuh menjadi vitamin yang aktif. Segera setelah diserap oleh tubuh provitamin akan mengalami perubahan kimia sehingga menjadi satu atau lebih bentuk yang aktif. Oleh karena itu, vitamin C disediakan dalam minuman atau suplemen sperti buavita melon. Buavita merupakan minuman buah sumber vitamin C yang mengandung vitamin C sebesar 9,8 mg/100 g. Adapun berdasarkan SNI 01-3722-1995 kandungan vitamin C minuman sumber vitamin C minimum 300 mg/100 g.
b.  Metode oksidimetri
                Metode oksidimetri merupakan Penetapan kadar Vitamin C dalam suasana asam akan mereduksi larutan dye membentuk larutan yang  tidak berwarna. Apabila semua asam askorbat sudah mereduksi larutan dye sedikit saja akan terlihat dengan terjadinya perubahan warna (Merah jambu) (Tejasari,2005).
c.  Metode  kolorimetri
            Metode kolometri didasarkan pada pengukuran jumlah 2,6-diklorofenol indofenol yang dihilangkan warnanya oleh asam askorbat di dalam ekstrak sampel dan di dalam larutan asam askorbat standar.Jika senyawa pengganggu yang dapat mereduksi dye bereaksi lamabat,penetapan yang tepat dengan cara ini terutama hanya mengukur asam askorbat (Tejasari,2005).




























PENUTUP
1.Kesimpulan
            Penentuan kadar vitamin C didapat dari berbagai sumber sayuran dan buah-buahan,dimana jeruk merupakan buah-buahan yang banyak mengandung kadar Vitamin C.Selain jeruk,masih banyak buah-buahan dan sayuran lain yang mengandung Vitamin C seperti tomat,apel,bayam,sawi,dll.
Metode yang digunakan dalam penentuan kadar Vitamin C yaitu metode spektrofotometri,oksidimetri,dan kolorimetri.
Pereaksi yang digunakan pada penetapan kadar vitamin C dengan metode spektrofotometri antara lain asam oksalat atau asam metafosfat dan diklorofenol indofenol.
 Metode oksidimetri merupakan Penetapan kadar Vitamin C dalam suasana asam akan mereduksi larutan dye membentuk larutan yang  tidak berwarna.
Metode kolometri didasarkan pada pengukuran jumlah 2,6-diklorofenol indofenol yang dihilangkan warnanya oleh asam askorbat di dalam ekstrak sampel dan di dalam larutan asam askorbat standar.
2.Saran
Untuk penentuan kadar Vitamin C pada buah-buahan dan sayuran yang lainnya,diharapkan dapat melakukan percobaan mengunakan beberapa metode yang telah dibahas sebelumnya dan dapat menemukan kadar Vitamin C lainnya.









DAFTAR PUSTAKA
Achmad.1987.Ilmu Gizi untuk Mahasiswa dan Profesi.Dian Rakyat.Jakarta Timur.
Akhilender.2003.Susunan Kimia Vitamin C.
F.G.Winarno.2004.Pangan Gizi Teknologi dan Konsumen.PT Gramedia Pustaka.                                  Utama.Jakarta.
Guyton.2007.Kekurangan dan Kelebihan Vitamin C.
Haryadi.2012.Sifat-sifat Asaam Askorbat.
Khomson.2010.Fungsi Vitamin
Sunita.2004.Metabolisme Vitamin C
Suhartono.2007.Pengertian Vitamin C dan Asam Askorbat http://drevan.co.id/2011/06/vitamin-c-asam-askorbat.html  diakses pada 16 Oktober 2015
Tejasari.2005.Nilai-Gizi Pangan.Graha Ilmu.Yogyakarta.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar