PEMBUATAN MIE JAGUNG
KARYA TULIS ILMIAH
OLEH :
TAUFIK BASKARA R.R
NO.BP.15251331016
PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PANGAN
JURUSAN TEKNOLOGI PERTANIAN
POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI
PAYAKUMBUH
TANJUNG PATI
2015
I PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Jagung
merupakan sumber karbohidrat yang memegang perana penting kedua setelah
beras.jagung juga mengandung unsure gizi lain yang diperlukan manusia yaitu
energy dalam bentuk kalori dan protein. Kandungan gizi jagung tidak kalah
dengan beras atau terigu,bahkan jagung memiliki keunggulan karena merupakan
pangan fungsional yaitu makanan dan bahan pangan yang dapat memberikan manfaat
tambahan disamping fungsi gizi dasar pangan sebagai sumber karbohidrat berupa
kandungan serat pangan,unsure Fe dan Karoten (pro vitamin A) yang tinggi.
Pengolahan jagung menjadi berbagai
macam produk olahan akan dapat meningkatkan nilai ekonomi dan nilai guna jagung
sebagai bahan pangan non beras. Adapun produk olahan jagung diantaranya jagung
bakar,keripik jagung,susu jagung,bubur jagung,emping jagung,aneka
bolu,talam,mie instan dll. Selain produk yang sudah disebutkan jagung juga bias
diolah menjadi tepung yang bias dijadikan bahan baku pembuatan mie.
Analisis kimia jagung menunjukkan
masing – masing fraksi mempunyai sifat yang berbeda. Lembaga dicirikan oleh
tingginya kadar lemak (33%),protein (18,4 %) dan mineral (10,5 %).
Kulit ari
jagung dicirikan oleh kandungan karbohidrat yang tinggi yaitu 86,7 %. Disisi
lain,endosperm kaya akan pati (87,6%),protein (8%) dan kadar lemak yang
relative rendah (0,8%)
III TINJAUAN PUSTAKA
2.1
Pengertian Jagung
Jagung (Zea mays L.) merupakan salah satu tanaman
pangan dunia yang terpenting, selain gandum
dan padi.
Sebagai sumber karbohidrat
utama di Amerika Tengah
dan Selatan,
jagung juga menjadi alternatif sumber pangan di Amerika Serikat. Penduduk beberapa
daerah di Indonesia
(misalnya di Madura
dan Nusa Tenggara)
juga menggunakan jagung sebagai pangan pokok. Selain sebagai sumber
karbohidrat, jagung juga ditanam sebagai pakan
ternak (hijauan
maupun tongkolnya),
diambil minyaknya (dari bulir),
dibuat tepung
(dari bulir, dikenal dengan istilah tepung jagung atau maizena), dan
bahan baku industri (dari tepung bulir dan tepung tongkolnya). Tongkol jagung
kaya akan pentosa,
yang dipakai sebagai bahan baku pembuatan furfural. Jagung yang telah direkayasa
genetika juga sekarang ditanam sebagai penghasil
bahan farmasi.
(http://id.wikipedia.org/wiki/Jagung,
diakses 11 September 2013,13.20 Wib)
2.2 Pengertian Mie Jagung
Mie jagung adalah produk mie
berbahan dasar tepung jagung 100% atau substitusi dengan tepung terigu
hingga 35%. Mie jagung dapat digunakan/dikonsumsi seperti mie basah yang
terbuat dari terigu. Biasanya dihidangkan dengan berbagai variasi masakan,
seperti untuk mie bakso, mie goreng, pelengkap masakan, dan sebagainya. Mie
jagung memiliki citarasa yang tidak berbeda dengan mie terigu yang sudah ada di
pasaran. Selain itu, produk ini memiliki kelebihan dibandingkan dengan mie
terigu antara lain tanpa bahan pewarna, bahan baku lokal (tidak perlu impor),
tinggi karbohidrat, tinggi serat, rendah lemak dan mengandung karoten. Mie jagung
dapat dikonsumsi oleh para penderita autisme dan juga pada orang-orang yang
memiliki hipersensitif pada protein terigu. (http://seafast.ipb.ac.id/research/products/78-mi-jagung/,diakses
,diakses 11 September 2013,13.27 Wib)
2.2.1 Bahan Baku
Bahan baku utama dalam pembuatan mi kering jagung adalah
tepung jagung kuning. Pemilihan varietas jagung kuning didasarkan pada
kebiasaan masyarakat Indonesia mengkonsumsi mi dengan warna kuning, sehingga
dengan penggunaan jagung kuning, tidak perlu ada penambahan pewarna.
Untuk pembuatan mi jagung, harus
digunakan tepung jagung yang bermutu baik. Tepung jagung yang tidak sesuai
dengan syarat untuk pembuatan mi jagung, akan menghasilkan mi yang kurang baik.
Syarat yang pertama harus berasal dari jagung pipil yang bermutu baik. Ukuran
tepung yang optimum untuk menjadi bahan baku mi jagung adalah lolos ayakan 80
mesh (kira-kira ukuran granula tepung 180 mikron meter).
Bahan lainnya terdiri dari air, garam dapur, dan GMS
(Gliseril Mono Stearat). Air berfungsi utama untuk media dalam proses
gelatinisasi. Air yang ditambahkan sebanyak 80% dari berat tepung (tergantung
dari kadar air tepung). Garam dapur berfungsi untuk memberi rasa, memperkuat tekstur
mi dan meningkatkan elastisi-tas. Garam dapur ditambahkan sebanyak 2% (berat
tepung). GMS berfungsi untuk mengurangi kelengketan mi ketika keluar dari die
ekstruder. GMS diperlukan sebanyak 0,8-1% (berat tepung).
2.2.2 Proses Pengolahan
Teknologi Produksi Mi Kering Jagung
Teknologi produksi mi kering dibuat dengan menggunakan
teknologi cooking-forming extruder. Pembuatan mi meliputi tahap
pencampuran, pencetakan, penge-ringan dan pengemasan. Proses produksi mi kering
jagung secara umum dapat dijelaskan sebagai berikut:
Pencampuran bahan
Pencampuran bertujuan untuk menghomogenkan (meratakan)
bahan-bahan dalam adonan. Bahan kering (tepung jagung dan GMS) dicampur dengan
mixer selama 3 menit. Garam dilarutkan ke dalam air, kemudian ditambahkan ke
dalam tepung secara perlahan-lahan sambil terus di-mixer selama 5 menit, sampai
terbentuk “granula”.
Pencetakan adonan
Adonan mi dimasukkan ke dalam ekstruder secara
terus-menerus. Jika ada jeda (berhenti) ketika memasukkan adonan akan berdampak
pada shear stress yang kurang dan gelatinisasi yang berlebih. Ekstruder di-set
pada suhu 90oC dan kece-patan 130 rpm. Jika suhu kurang,
gelatinisasi tidak akan dicapai dan matriks struktur mi akan rapuh. Kecepatan
ulir yang terlalu tinggi menyebabkan waktu tinggal bahan di dalam ekstruder
terlalu cepat dan proses gelatinsasi juga akan kurang.
Pengeringan mi
Apabila mi akan dibuat mi kering, maka mi dikeringkan dengan
meng-gunakan kering angin (kipas angin) selama 48 jam, atau dengan fluid bed
drier (suhu 35oC) selama 12 jam sehingga kadar air mencapai
sekitar 10%. Mi kering kemudian didinginkan sebelum dikemas. Pengeringan
langsung menggunakan fluid bed drier dengan suhu > 40oC
dapat menyebabkan pengeluaran air yang terlalu cepat, mi akan retak-retak dan
hancur ketika dimasak. Ciri mi sudah kering adalah mudah dipatahkan dan
warnanya bening (glasses)
Prosedur Pembuatan
Peralatan
- Timbangan
- Handmixer
- Ekstruder Pemasak Pencetak ulir tunggal
- Fluid bad dryer
- Kipas angin
Prosedur kerja
Mie jagung dapat digunakan/dikonsumsi seperti mie basah yang
terbuat dari terigu. Biasanya dihidangkan dengan berbagai variasi masakan,
seperti untuk mie bakso, mie goreng, pelengkap masakan, dan sebagainya. Mie
jagung memiliki citarasa yang tidak berbeda dengan mie terigu yang sudah ada di
pasaran. Selain itu, produk ini memiliki kelebihan dibandingkan
dengan mie terigu antara lain tanpa bahan pewarna, bahan
baku lokal (tidak perlu impor), tinggi karbohidrat, tinggi serat, rendah lemak
dan mengandung karoten. Mie jagung dapat dikonsumsi oleh para penderita autisme
dan juga pada orang-orang yang memiliki hipersensitif pada protein terigu.
Proses
Pembuatan Mie Jagung
Proses pembuatan mie dari jagung memiliki beberapa tahap yakni pencampuran bahan, pengukusan pertama, penyatuan adonan, pencetakan mie, pengukusan kedua, pendinginan, dan penggorengan. Bahan yang digunakan dalam pembuatan mie instan dari jagung untuk setiap 1 kg jagung terdiri dari 80% air, 6 % telur, dan garam 1,3%.
Proses pembuatan mie dari jagung memiliki beberapa tahap yakni pencampuran bahan, pengukusan pertama, penyatuan adonan, pencetakan mie, pengukusan kedua, pendinginan, dan penggorengan. Bahan yang digunakan dalam pembuatan mie instan dari jagung untuk setiap 1 kg jagung terdiri dari 80% air, 6 % telur, dan garam 1,3%.
Penambahan
air dengan jumlah yang cukup tinggi dilakukan karena kandungan tepung
jagung berbeda dengan tepung terigu. Tepung terigu mengandung
protein berupa gluten yang dapat mengikat air. Berbeda dengan tepung jagung
yang tidak mempunyai gluten yang dapat mengikat air, jagung hanya mengandung
protein dikelompokkan menjadi empat golongan, yaitu albumin, globulin,
glutelin, dan prolamin.
Dengan
adanya penambahan air 80 % akan menyebabkan sebagian adonan tergelatinisasi
yang dibutuhkan dalam pembuatan
lempengan mie. Penambahan air juga berfungsi melarutkan garam agar merata pada
semua bahan. Hal ini sesuai dengan pendapat Anonymous (2008), bahwa
air berfungsi sebagai media reaksi antara gluten dan karbohidrat, melarutkan
garam, dan membentuk sifat kenyal gluten. Pati dan gluten akan mengembang dengan
adanya air. Makin banyak air yang diserap, mie menjadi tidak mudah patah.
Pada
proses pembuatan mie instan diperlukan garam sebagai pemberi rasa.
Penambahan garam secara berlebih akan mempengaruhi rasa. Hal ini
sesuai dengan pendapat Anonymous (2008), bahwa garam berperan dalam memberi
rasa, memperkuat tekstur mie, meningkatkan fleksibilitas dan elastisitas mie
serta mengikat air. Garam dapat menghambat aktivitas enzim protease dan amilase
sehingga pasta tidak bersifat lengket dan tidak mengembang secara berlebihan.
Telur yang
ditambahkan dalam pembuatan mie instan menggunakan 60 gram untuk setiap
kilogram jagung. Walaupun yang diperoleh sebelumnya bahwa dengan
penambahan telur yang berlebih maka akan mengurangi jumlah air yang
digunakan. Telur akan menambah daya liat adonan. Selain itu
penambahan telur berfungsi untuk mencegah penyerapan minyak yang berlebih dan
kekeruhan mie pada saat pemasakan kembali. Kuning telur berfungsi pula
untuk mengembangkan adonan dan mempercepat hidrasi air. Hal ini sesuai
dengan pendapat Astawan (2001), bahwa penambahan telur pada pembuatan mie
basah adalah untuk meningkatkan mutu protein mie dan menciptakan adonan yang
lebih liat sehingga tidak mudah putus-putus. Penambahan kuning telur
berfungsi untuk mengembangkan adonan dan akan memberikan warna seragam.
Hal ini sesuai dengan pendapat Anonymous (2008), bahwa putih telur akan
menghasilkan suatu lapisan yang tipis dan kuat pada permukaan mie. Lapisan
tersebut cukup efektif untuk mencegah penyerapan minyak sewaktu digoreng dan
kekeruhan saus mie sewaktu pemasakan. Lesitin pada kuning telur merupakan
pengemulsi yang baik, dapat mempercepat hidrasi air pada terigu, dan bersifat
mengembangkan adonan.
Pengukusan
pertama pada pembuatan mie instan dari jagung dilakukan selama 10 menit dalam
bentuk adonan dan berfungsi untuk gelatinisasi awal. Geletinisasi yang
terjadi tidak sempurna, hanya terjadi pada bagian luar adonan.
Gelatinisasi sempurna pada adonan akan mempengaruhi pencetakan mie, dimana akan
diihasilkan uantaian mie yang melekat satu sama lain.
Tahap
selanjutnya setelah pengukusan I adalah pembuatan lembaran mie. Pembuatan
lembaran mie dilakukan pada penggilingan sederhana yang banyak digunakan dalam
rumah tangga. Penggilingan dilakukan beberapa kali untuk
mendapatkan suatu lembaran mie. Untuk penggilingan pada adonan mie
jagung tidak akan diperoleh langsung lembaran seperti halnya ketika membuat
adonan mie dari tepung terigu. Satu lembaran mie dapat diperoleh
dengan penggilingan 10 kali hingga 20 kali. Mula-mula akan dihasilkan
adonan yang terpisah-pisah, dari adonan yang terpisah tersebut disatukan
kemudian digiling kembali. Hal ini dilakukan sampai diperoleh lembaran
mie yang menyatu dan tidak nampak bintik-bintik tepung. Kemudian dicetak
dalam bentuk untaian mie.
Gelatinisasi
awal dilakukan untuk mengikat air agar adonan dapat menyatu. Terbentuknya
lembaran mie bertahap dari yang kecil hingga membentuk suatu lembaran.
Hal ini diakibatkan karena hanya sebagian dari adonan yang
tergelatinisasi. Lama penggilingan untuk pembuatan lembaran mie jagung
tergantung dari jumlah jagung pulut yang ditambahkan. Semakin
banyak jagung pulut yang ditambahkan makin sedikit waktu yang dibutuhkan untuk
memperoleh lembaran mie, begitupun sebaliknya. Kondisi ini
disebabkan karena jagung pulut banyak mengandung amilopektin sehingga daya
lekatnya lebih tinggi (sesuai dengan pendapat Haryanto dan Philipus, 1992),
bahwa kandungan amilopektin sangat berperan dalam menentukan lekat tidaknya
bahan. Sebagai contoh kandungan amilopektin yang tinggi pada beras akan
menyebabkan beras menjadi lebih lekat dari beras yang amilopektinnya
kurang. Apabila kadar amilosanya tinggi, maka pati akan bersifat kering,
kurang lekat dan cenderung meresap air lebih banyak atau higroskopis.
Tahap
selanjutnya adalah pengukusan II, selama 10 menit, untuk gelatinisasi secara
sempurna minimal 90%. Gelatinisasi dilakukan untuk memperoleh mie yang
tidak mudah putus karena adanya penyerapan air sehingga mie menjadi
kenyal. Gelatinisasi ini juga berperan untuk memperoleh mie
menjadi instan, karena semakin tinggi derajat gelatinisasi maka mie yang
akan diperoleh semakin instan. Sesuai dengan pendapat Anonymous
(2007), bahwa semakin tinggi derajat gelatinisasi, mi akan semakin baik dan
semakin instan. Mie normal (yang matang dalam tiga menit), derajat gelatinisasi
yang dibutuhkan minimal 80% dan untuk mie seduh
(cup noodle) dibutuhkan derajat gelatinisasi minimal 90%.
Semakin
tinggi derajat geletinisasinya, selain menjadi lebih instan, mi juga akan
mengalami menjadi semakin kokoh (tidak mudah patah). Sesuai dengan
pendapat Anonymous (2008), bahwa setelah pembentukan mie dilakukan proses
pengukusan. Gelatinisasi pati dan koagulasi gluten terjadi pada proses
pengukusanb sehingga dengan terjadinya dehidrasi air dari gluten akan
menyebabkan timbulnya kekenyalan mie. Hal ini disebabkan oleh putusnya ikatan
hidrogen,
sehingga
rantai ikatan kompleks pati dan gluten lebih rapat. Sebelum dikukus, ikatan
bersifat lunak dan fleksibel, tetapi setelah dikukus menjadi keras dan kuat.
Pengangkatan
mie dari alat pengukus harus segera mungkin dilakukan setelah waktu pengukusan
telah usai untuk didinginkan. Hal tersebut dilakukan agar uap air
dalam wadah tidak jatuh pada mie dan uap air yang terdapat pada loyang pengukus
yang dihasilkan karena panas tidak meresap masuk kedalam mie.
Apabila hal itu terjadi, mie yang akan dihasilkan mempunyai tekstur yang tidak
baik dan dapat mengakibatkan mie menjadi hancur.
Proses
selanjutnya setelah pengukusan yakni penggorengan pada suhu 130 – 135 oC selama
3 menit. Penggorengan ini dimaksudkan untuk menghilangkan kadar air
yang terkandung didalamnya, karena adanya panas yang cukup tinggi.
Penggorengan mengakibatkan pori-pori mie bagian luar menjadi lebih halus,
yang dibutuhkan agar waktu rehidrasi lebih singkat. Hal ini sesuai
dengan pendapat Anonymous (2008), bahwa suhu minyak yang tinggi menyebabkan air
menguap dengan cepat dan menghasilkan pori-pori halus pada permukaan mie,
sehingga waktu rehidrasi dipersingkat. Teknik tersebut biasa dipakai dalam
pembuatan mie instant.
2.3
Perbandingan kandungan nilai gizi mie jagung dan mie terigu
Table (a.1)perbandingan
gizi mie jagung dan mie terigu
|
Komposisi (%)
|
Mie Jagung
|
Mie Terigu
|
|
Kadar air
|
11.67
|
3.50
|
|
Kadar Abu
|
1.20
|
2.13
|
|
Kadar Protein Kasar
|
6.16
|
10.00
|
|
Kadar Lemak Kasar
|
2.27
|
21.43
|
|
Karbohidrat
|
78.69
|
61.43
|
|
Pati
|
65.92
|
54.28
|
|
Serat
|
6.80
|
2.85
|
Teknologi
pembuatan mie instan jagung secara umum terdiri dari proses pencampuran,
pengukusan, pencetakan & pemotongan, dan pengeringan. Tantangan
pengembangan mie jagung adalah perlunya jaminan pasokan bahan baku jagung yang
kontinyu, perlu adanya industri yang memproduksi tepung jagung sebagai bahan
baku untuk industri mie jagung serta memperkenalkan mie jagung pada masyarakat.
Pada Maret
2003 dipublikasikan hasil studi/penelitian Andi Nurfitriani Jurusan Teknologi
Hasil Pertanian, Fakultas Pertanian Universitas Ichsan GorontaloJagung. Dalam
tulisannya diulas sebagai berikut :
(Zea Mays
L.) merupakan salah satu bahan pangan yang mempunyai kandungan karbohidrat yang
tinggi dan merupakan salah satu bahan pangan yang banyak dijumpai di Indonesia.
Jagung sebagai bahan makanan pokok utama mulai ditinggalkan karena digantikan
dengan beras. Jagung
pun hanya
dijadikan sebagai bahan pangan selingan. Selain itu, jagung hanya ditanam untuk
diekspor sebagai bahan pakan ternak.
Upaya
untuk memperkenalkan kepada masyarakat luas agar penggunaan jagung dapat lebih
diterima dan dapat dijadikan sebagai bahan pokok makanan maupun sebagai bahan
tambahan yakni dengan pengolahan jagung menjadi tepung. Pengolahan
yang cukup sederhana ini diharapkan mampu untuk mengubah bagaimana pandangan
masyarakat terhadap jagung itu sendiri. Masyarakat lebih mengenal
tepung dari terigu, beras, maupun beras ketan sehingga pembuatan makanan
pun lebih banyak diambil dari bahan tersebut.
Salah satu
makanan alternatif yang dapat diolah dari bahan baku jagung adalah produk mie
instan. Mie instan sebagian besar dijadikan sebagai bahan pokok oleh masyarakat
hanya berasal dari tepung terigu. Mie instan dari jagung ini diharapkan mampu
mengurangi penggunaan tepung terigu yang merupakan salah satu komoditas
yang diimport dalam jumlah besar. Mie jagung instan diharapkan lebih
banyak dikonsumsi mengingat jagung mempunyai kandungan karbohidrat yang cukup
tinggi setelah beras dan terigu.
Jagung
ketan atau pulut merupakan jenis jagung yang banyak mengandung amilokpektin
sedangkan pada jagung kuning mempunyai kandungan amilopektin yang sangat
sedikit. Jagung kuning lebih banyak mengandung amilosa. Daya rekat adonan mie
dipengaruhi oleh adanya kandungan amilopektin.
Permasalahan
dalam pembuatan mie instan dari tepung jagung ini adalah jagung tidak mempunyai
zat gluten sehingga perlu modifikasi untuk membentuk adonan yang dapat dibentuk
menjadi untaian mie dan belum diketahui jenis jagung yang terbaik serta
perbandingan jenis jagung dalam pembuatan mie.
III PEMBAHASAN
3.1 Pengertian Jagung
Jagung (Zea mays L.) merupakan salah satu tanaman
pangan dunia yang terpenting, selain gandum
dan padi.
Sebagai sumber karbohidrat
utama di Amerika Tengah
dan Selatan,
jagung juga menjadi alternatif sumber pangan di Amerika Serikat. Penduduk beberapa
daerah di Indonesia
(misalnya di Madura
dan Nusa Tenggara)
juga menggunakan jagung sebagai pangan pokok. Selain sebagai sumber
karbohidrat, jagung juga ditanam sebagai pakan
ternak (hijauan
maupun tongkolnya),
diambil minyaknya (dari bulir),
dibuat tepung
(dari bulir, dikenal dengan istilah tepung jagung atau maizena), dan
bahan baku industri (dari tepung bulir dan tepung tongkolnya). Tongkol jagung
kaya akan pentosa,
yang dipakai sebagai bahan baku pembuatan furfural. Jagung yang telah direkayasa
genetika juga sekarang ditanam sebagai penghasil
bahan farmasi.
(http://id.wikipedia.org/wiki/Jagung,
diakses 11 September 2013,13.20 Wib)
3.2 Waktu Rehidrasi
Pengukuran waktu rehidrasi ini dimaksudkan untuk mengetahui berapa lama waktu yang dibutuhkan produk bahan pangan untuk mengembang dari keadaan semula. Hasil yang diperoleh dari keempat perlakuan yang dicobakan maka diperoleh hasil yang berbeda-beda untuk waktu rehidrasinya.
Pengukuran waktu rehidrasi ini dimaksudkan untuk mengetahui berapa lama waktu yang dibutuhkan produk bahan pangan untuk mengembang dari keadaan semula. Hasil yang diperoleh dari keempat perlakuan yang dicobakan maka diperoleh hasil yang berbeda-beda untuk waktu rehidrasinya.
Hasil
penelitian menunjukkan bahwa semakin tinggi kandungan amilopektin yang
ditambahkan maka semakin lama pula waktu penyerapan air yang dibutuhkan.
Produk mie instan dari penggunaan jagung kuning 100% mempunyai waktu rehidrasi
3 menit 27 detik. Mie instan dari campuran jagung kuning dan jagung pulut dan
perbandingan 9 : 1 mempunyai waktu rehidrasi 4 menit 39 detik. Mie instan
dengan perbandingan 8 : 2 mempunyai waktu rehidarasi 4 menit 54 detik dan
mie instant dengan perbandingan 7 : 3 untuk jagung kuning dan jagung pulut
mempunyai waktu rehidrasi 4 menit 75 detik.
Hasil yang
diperoleh menunjukkan semakin tinggi jagung kuning yang digunakan semakin cepat
waktu rehidrasinya. Hal ini disebabkan karena banyaknya kandungan gugus
hidroksil bebas akibat tingginya kadar amilosa pada jagung kuning. Adanya gugus
hidroksil bebas mengakibatkan penyerapan air lebih mudah menyerap kedalam
mie. Semakin tinggi kandungan gugus hidroksilnya maka semakin tinggi pula
penyerapanya airnya. Hal ini sesuai dengan pendapat Richana dan Suarni
(2008), bahwa pada proses gelatinisasi terjadi perusakan ikatan hidrogen
intramolekuler. Ikatan hidrogen berperan mempertahankan struktur integritas
granula. Terdapatnya gugus hidroksil bebas akan menyerap air, sehingga terjadi
pembengkakan granula pati. Dengan demikian, semakin banyak jumlah gugus
hidroksil dari molekul pati semakin tinggi kemampuannya menyerap air. Oleh
karena itu, absorbsi air sangat berpengaruh terhadap viskositas. Jika
jumlah air dalam sistem dibatasi maka amilosa tidak dapat meninggalkan granula.
3.3 Uji Organoleptik
Uji
organoleptik dilakukan untuk mengetahui penilaian panelis terhadap produk yang
dihasilkan apakah diterima atau tidak. Selain itu juga, untuk mengetahui
hasil produk yang terbaik di antara keempat perlakuan. Uji yang digunakan
adalah uji hedonik untuk mengetahui tingkat kesukaan terhadap warma, rasa, dan
aroma.
Menurut
Winarno (2003), cita rasa bahan pangan sesungguhnya terdiri dari tiga komponen
yaitu, bau, rasa, dan rangsangan warna. Bau makanan banyak menentukan
kelezatan bahan makanan tersebut. Rasa berbeda dengan bau dan lebih
banyak melibatkan panca indera lidah.
3.4 Warna Mie Jagung
Hasil
dari uji organoleptik terhadap warna untuk mie instan yang terbuat dari jagung
kuning 100 % mempunyai respon suka dengan nilai 3,7 sedangkan respon
panelis untuk mie instan dari tepung jagung kuning dan tepung pulut
dengan perbandingan 9:1, 8:2, 7:3 yakni agak suka dengan nilai
berturut-turut 3,3 ; 3,25 ; 2,8. Hal ini disebabkan panelis menyukai
warna alami dan seragam dari jagung kuning. Sedangkan untuk perlakuan
lain ada penambahan jagung pulut sehingga warna kuning tidak terlalu mencolok
dibanding dengan jagung kuning seluruhnya. Warna yang seragam ini
juga dipengaruhi oleh adanya penambahan kuning telur. Hal ini sesuai dengan
pendapat Astawan, (2001), bahwa penambahan kuning telur berfungsi untuk
mengembangkan adonan dan akan memberikan warna seragam. Dan pendapat dari
Juniawati (2003), bahwa pembuatan mie jagung warna kuning yang dihasilkan merupakan
warna alami yang disebabkan karena pigmen kuning pada jagung yaitu beta
karoten, lutein, dan xanthin.
3.5 Rasa Mie Jagung
Respon
panelis terhadap rasa dari mie instan dari jagung ini yakni mie instan dari
tepung jagung 100 % yakni suka (3,55), untuk mie instan berbahan baku
jagung kuning dan jagung pulut dengan perbandingan 9 : 1 mempunyai respon suka
(3,6). Sedangkan respon terhadap mie instant yang terbuat dari
jagung dengan perbandingan 8 : 2 dan 7 : 3 untuk jagung kuning dan jagung
pulut mempunyai respon agak suka dengan nilai berturut-turut 3,15 dan
2,8.
Berdasarkan hasil yang diperoleh
diketahui bahwa panelis lebih menyukai mie instan yang terbuat dari jagung
kuning dan jagung pulut dengan perbandingan 9 : 1. Respon terendah
diperoleh dari mie jagung instan dengan penambahan 20 % dan 30 % jagung
pulut. Respon agak suka dari panelis ini disebabkan karena melihat
tekstur dari mie jagung instan ini setelah dimasak lebih mudah hancur dibanding
dengan mie 100 % dari jagung kuning maupun dengan penambahan 10% jagung pulut.
3.6 Aroma Mie Jagung
Faktor lain yang
mempengaruhi tingkat kesukaan terhadap suatu produk adalah aroma. Aroma banyak
menentukan kelezatan dari suatu makanan. Walaupun suatu bahan pangan
mempunyai nilai gizi yang tinggi, tetapi ketika tercium aroma tidak sedap
tingkat kesukaan terhadap bahan pangan dapat menurun. Adanya
aroma yang tidak sedap akan menimbulkan ketidak sukaan terhadap bahan pangan
meskipun belum dikonsumsi.
Respon
panelis terhadap produk mie instan dari jagung dengan perlakuan penggunaan
jagung kuning 100% yakni suka (3,7). Sedangkan respon panelis terhadap
mie instan dari jagung kuning dan jagung pulut dengan perbandingan 9:1, 8:2,
dan 7:3 mempunyai respon agak suka dengan nilai berturut-turut 3,15 ; 3,05
; 2,6. Berdasarkan hasil uji organoleptik seperti yang telah diuraikan
sebelumnya, maka diperoleh perlakuan yang terbaik yakni pada mie intan
yang terbuat dari jagung kuning dan mie instan yang terbuat dari jagung kuning
dan jagung pulut dengan perbandingan 9:1.
IV KESIMPULAN
4.1
Kesimpulan
Usaha pengolahan produk Mie Jagung
ini merupakan usaha yang memiliki prospek bagus untuk terus dikembangkan,hal
ini didukung dengan minat masyarakat yang sangat besar untuk mengkonsumsi
mie,selain itu juga ketersedian bahan baku dan peralatan yang digunakan dalam
proses produksi mie jagung mudah didapat dipasaran sehingga sedikit hambatan
dalam memproduksi produk ini.Sedangkan untuk segmentasi pasar yang dituju
sebagai calon konsumen dari produk mie jagung ini adalah semua kalangan,
tingkat ekonomi,baik kalangan bawah,menengah,maupun kalangan atas.Selain itu
untuk usia produk ini baik untuk semua usia,anak-anak,remaja,maupun dewasa dan
lanjut usia.Dengan segmentasi pasar tersebut dapat memudahkan produsen untuk
memasarkan produknya,selain itu pula saluran distribusi yang digunakan untuk
memasarkan produk mie jagung ini sebaiknya menggunakan distribusi
langsung,artinya distribusi atau pemasaran langsung dilakukan kepada konsumen
langsung hal ini untuk memperpendek jalur distribusi sehingga kualitas dari
produk mie jagung ini tetap bagus.Distribusi langsung ini sangat diprioritaskan
untuk produk mie jagung basah karena produk ini lebih mudah mengalami penurunan
kualitas dibandingkan dengan produk mie jagung kering.Jadi secara garis besar
usaha mie jagung ini dapat dijadikan usaha untuk meningkatkan nilai tambah
terhadap produk hortikultura khususnya jagung.
DAFTAR PUSTAKA
Irawan indra;tanaman
jagung,1998
Warnita;pembuatan aneka
tepung jagung,2002
(http://keju.blogspot.com/1970/01/isi-kandungan-gizi-tepung-jagung-kuning-komposisi-nutrisi-bahan-makanan.html,
diakses 11 September 2013,13.25 Wib).
(http://seafast.ipb.ac.id/research/products/78-mi-jagung/,diakses
,diakses 11 September 2013,13.27 Wib)






Tidak ada komentar:
Posting Komentar