LAPORAN KULIAH LUAR KAMPUS
TEKNOLOGI
PRODUKSI TANAMAN PANGAN 1
(TPTP1)
TENTANG JAGUNG, PADI, DAN TEKNOLOGI PADI SALIBU
DI BPTP SUKARAMI SUMATERA BARAT
Oleh:
TRI NOVELA
15251421016
DOSEN PEMBIMBING :
Ir.Yulensri. M.Si
Nofrianil SP.M.Si
Fedri Ibnusina SP.MP
PROGRAM STUDI MANAJEMEN
PRODUKSI PERTANIAN
JURUSAN BUDIDAYA TANAMAN
PANGAN
POLITEKNIK PERTANIAN
NEGERI PAYAKUMBUH
2016
BAB I PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Balai
Pengkajian Teknologi Pertanian Sumatera Barat adalah unit pelaksana teknis
(UPT) Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Badan Litbang Pertanian) di
daerah yang dibentuk berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian (SK Mentan)
nomor 798/Kpts/OT.210/12/94 tanggal 13 Desember 1994.
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian
(BPTP) Sumatera Barat merupakan Unit Pelaksana Teknis (UPT) di bidang
penelitian dan pengembangan pertanian yang berada di bawah dan bertanggung
jawab kepada Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, dan dalam
pelaksanaan tugas sehari-hari dikoordinasikan oleh Kepala Balai Besar
Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian (BBP2TP), ditetapkan sesuai
dengan Peraturan Menteri Pertanian Nomor: 16/Permentan/OT.140/2006 tanggal 1
Maret 2006 dengan wilayah kerja Propinsi Sumatera Barat.
Berawal pada tahun 1952 di desa
Sukarami Kabupaten Solok didirikan suatu stasiun penelitian kecil yang disebut Balai
Penyelidikan Teknik Pertanian yang berada di bawah Balai Penyelidikan Pertanian
Bogor. Tugas utama stasiun ini adalah melakukan penelitian yang direncanakan di
Bogor untuk daerah Sumatera Barat.
Pada tahun 1962 stasiun ini
berganti nama menjadi Perwakilan Kebun
Percobaan Sumatera Barat dan lokasinya pindah ke Bandar Buat, Padang.
Tugas utamanya melaksanakan penelitian
yang direncanakan di Bogor. Tahun 1968 namanya berubah lagi menjadi Lembaga
Pusat Penelitian Pertanian (LP3) Perwakilan
Sumatera Barat. Pada tahun 1980 lembaga ini secara resmi dinamakan Balai
Penelitian Tanaman Pangan Sukarami,
namun lokasinya masih di sekitar Bandar Buat. Pada tahap ini perencanaan kegiatan penelitian
sudah dilaksanakan oleh balitan sukarami
dengan arahan dari Puslitbangtan. Hal ini karena pembangunan fasilitas yang
mulai sejak tahun 1979 belum selesai.
Baru pada tahun 1983 balai ini secara
fisik pindah ke Sukarami sesuai dengan
namanya waktu itu. Melalui Surat Keputusan Pertanian nomor 789/Kpts/OT.210/12/94 tanggal 13 Desember
1994, dibentuk Balai Pengkajian
Teknologi Pertanian (BPTP) Sukarami. Namun sekarang namanya telah diubah
menjadi”Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sumatera Barat”.
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian
(BPTP) Sumatera Barat merupakan Unit Pelaksana Teknis (UPT) di bidang
penelitian dan pengembangan pertanian yang berada di bawah dan bertanggung
jawab kepada Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, dan dalam
pelaksanaan tugas sehari-hari dikoordinasikan oleh Kepala Balai Besar
Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian (BBP2TP), ditetapkan sesuai
dengan Peraturan Menteri Pertanian Nomor: 16/Permentan/OT.140/2006 tanggal 1
Maret 2006 dengan wilayah kerja Propinsi Sumatera Barat.
BPTP Sumatera Barat telah mengalami
beberapa kali perubahan sebelumnya bernama Balai Pengkajian Teknologi Pertanian
(BPTP) Sukarami dibentuk berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian
No.798/KPTS/OT.210/12/94 tanggal 4 November 1994 yang merupakan penggabungan
Balai Penelitian Tanaman Pangan (Balittan) Sukarami dengan Balai Informasi
Pertanian (BIP) Sumbar, BIP Bengkulu, Sub Balai Penelitian Rempah dan
Obat-obatan (Balitro) Laing dan Laboratorium Bukittinggi dengan wilayah kerja
mencakup Propinsi Sumatera Barat (Sumbar) dan Propinsi Bengkulu.
Sampai saat ini, BPTP Sumbar telah
merekomendasikan 48 paket teknologi pertanian yang mencakup varietas unggul
baru, teknologi budidaya pertanian, teknologi pengolahan hasil pertanian, dan
rekomendasi kebijakan peranian secara spesifik lokasi dan berwawasan
agribisnis. Pendampingan BPTP Sumbar yang dilakukan dalam pelaksanaan Sekolah
Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu (SLPTT) padi sawah melalui display VUB
(varietas unggul baru) padi sawah telah membantu 10 buah kabupaten/kota
mendapat penghargaan Presiden RI tahun 2012 sebagai daerah yang mampu
meningkatkan produksi padi diatas 5%. Disamping itu, Menteri Pertanian RI
memberikan penghargaan kepada kota Padang sebagai pelaksana Model Kawasan Rumah
Pangan Lestari terbaik tahun 2012. BPTP Sumbar saat ini juga melakukan
pelaksanaan Model Pengembangan Pertanian Melaui Inovasi di Kabupaten Padang
Pariaman dan Kabuypaten Pasaman Barat guna mendukung Program Gerakan
Pensejahteraan Petani yang dicanangkan Pemeritah Propinsi Sumatera Barat yang
pelaksanaannya selama 5 tahun dimulai pada tahun 2011.
1.2 Tujuan
1.
Mengetahui
teknologi yang telah diterapkan di BPTP-SUMBAR
2.
Mengetahui
informasi tentang jagung dan padi menurut BPTP SUKARAMI SUMBAR
3.
Mengetahui
tentang teknologi padi salibu di BPTP SUKARAMI SUMBAR
BAB II HASIL & PEMBAHASAN
2.1 Jagung
2.1.1
Pengertian Tanaman Jagung
Tanaman Jagung merupakan keluarga dari rumput-rumputan(Poaceae)
dan tergolong kedalam jenis-jenis tanaman pangan tipe serealia
(Biji-Bijian) dengan morfologi
jagung yang berakar serabut,berbatang tegak,beruas,memiliki daun
sempurna,berumah satu (Monoecious) menjadi karakteristik tanaman jagung
itu sendiri.
2.1.2 Berdasarkan Tipe Bentuk Biji (Endosperma) dan Tektur Biji Jagung dapat
digolongkan menjadi 7 tipe jagung :
a.
Jagung Mutiara
(Flint corn). Jagung ini banyak
dibudidayakan petani di Indonesia karena keunggulanya tahan terhadap hama
digudang pada saat penyimpanan.ciri dari jagung mutiara antara lain memiliki
bentuk biji yang bulat,sedikit keras,licin dan mengkilap pada permukaan atas
biji jagung tersebut.
- Jagung Manis (Sweet corn). Jagung manis merupakan salah satu jenis jagung yang paling banyak dibudidaya di Indonesia khususnya,karena rasa manis dan banyak dijadikan jajanan pasar aneka rasa.ciri dari jagung manis antara lain bulat,lembut,dan banyak mengandung kadar gula yang terdapat pada pati jagung tersebut.
- Jagung Gigi Kuda (Dent corn). Jagung gigi kuda adalah tipe jagung sangat populer dan disukai di Amerika dan Eropa.ciri dari jagung kuda ini berbentuk pipih,berlekuk,besar,bagian keras pada biji terdapat pada ditengah sampai ujung biji tersebut,mudah kehilangan air sehingga cepat sekali biji mengerut dan keras.
- Jagung Pod (Pod corn). Jenis jagung pod merupakan salah jenis primitif karena seluruh biji jagung tertutup oleh glume atau kelobot,jenis jagung ini jarang sekali dibudidayakan secara komersil sehingga tidak jarang petani jagung yang mengetahui jenis jagung tersebut.
- Jagung Brondong (Pop corn). Jenis jagung brondong banyak dijadikan cemilan atau jajanan ringan atau lebih umum dikenal dengan Popcorn.ciri dari jagung popcorn ini biji berukuran kecil,endospern banyak mengandung air sehingga pada saat dilakukan pemanasaan pada biji tersebut akan membesar dan pecah.
- Jagung Ketan atau Pulut (Waxy corn). Jenis jagung ketan atau pulut lebih populer digunakan sebagai bahan perekat dan bahan campuran makanan karena seluruh kandungan pati jagung ini mengandung 100 persen (%) amilopektine.
- Jagung Tepung (Floury corn)Jenis jagung floury corn banyak dibudidayakan Negara Amerika Selatan tetapnya di Peru dan Bolivia,ciri khusus pada jenis jagung ini mengandung pati yang lunak,bentuk biji pipih,tipis dan keras.
2.1.2
Pengelolaan
Tanaman Terpadu (PTT) Jagung
Karakteristik Tanaman Jagung :
•
Tanaman
berumah satu
•
Bunga jantan
berupa malai
•
Bunga betina
berupa tongkol
•
Bakal biji
dilindungi tangkai putik berupa rambut, jika siap dibuahi rambut memanjang
sampai keluar dari tongkol
•
Bunga jantan
lebih dahulu masak 1-3 hari
•
Menyerbuk
silang
•
Penyerbukan
sendiri < 5 %
•
Mudah terjadi
kontaminasi: dapat diserbuki oleh tanaman yang ada didekatnya
Jenis Jagung :
• Komposit/Bersari Bebas
•
Dibentuk dari
beberapa galur murni atau berbagai plasmanutfah.
•
Peyerbukan
secara acak antar tanaman dalam varietas.
•
Tanaman biasanya tidak seragam.
•
Hasil panen
dapat digunakan sabagai benih musim berikut.
Contoh: Lamuru, Sukmaraga
1. Jagung
Bersari Bebas
•
Penyerbukan
acak antar tanaman dalam varietas.
•
Digolongkan
menjadi 2, yaitu Sintetik dan Komposit.
•
Sintetik
dibentuk dari beberapa galur inbrida yang mempunyai daya gabung umum baik dan
diikuti seleksi.
•
Komposit
dibentuk dari galur inbrida, populasi, dan atau varietas yang tidak dilakukan
uji gaya gabung terlebih dahulu.
•
Keseragaman
hanya dalam beberapa karakter karena belum mencapai puncak fiksasi.
2. Hibrida
• Dibentuk dari persilangan antara varietas bersari
bebas atau populasi dengan galur atau hibrida, persilangan antara galur dengan
galur.
• Potensi hasil lebih tinggi, tanaman lebih seragam.
• Benih turunan potensinya menurun.
Contoh: BISI-2, Pioneer, C7, Bima-1, Bima-2, Bima-3, Bima-4, dsb.
•
Var Hibrida: Benih yang digunakan untuk pertanaman produksi adalah
benih generasi pertama (F1) dari hasil
persilangan dua (atau lebih) tetua berbeda
•
Hibrida:
Silang Tunggal
Silang Tiga
Silang Ganda
•
Dasar
genetik pemuliaan hibrida : adanya fenomena vigor hibrida atau heterosis
•
Yaitu
suatu kecendrungan bhw individu atau populasi F1 akan tampil lebih baik
dibandingkan dengan salah satu tetua atau rata-rata kedua tetua pembentuknya
Lingkungan
Tumbuh Ideal Untuk
Jagung:
•
Menjelang akhir musim hujan
•
Tanah bertekstur ringan sampai sedang
•
Tersedia air cukup selama pertumbuhan (terutama saat awal vegetatif, pembentukan bunga dan
penyerbukan serta saat pengisian biji)
•
Lahan Tidak Tergenang Air
•
Ketinggian Tempat Sampai 1.000 M Dpl.
Komponen Teknologi Dalam PTT :
a. Komponen
Teknologi Dasar
Komponen
Teknologi Yang Relatif Dapat Berlaku Umum Di Wilayah Yang Luas :
- varietas unggul (hibrida atau komposit)
- benih bermutu (seed treatment)
- populasi tanaman 66.600 – 75.000 tanaman/ha
- pemupukan berimbang
b. Komponen Teknologi Pilihan
Komponen Teknologi Lebih
Bersifat Spesifik Lokasi :
- penyiapan lahan (tanpa olah tanah atau olah tanah sempurna)
- bahan organik, pupuk kandang, amelioran
- penyiangan gulma dengan herbisida atau manual
- pengendalian hama dan penyakit yang tepat sasaran
- cara penanganan panen dan pasca panen
c.
varietas
unggul baru (hibrida atau komposit)
Komponen Teknologi Dasar (Compulsory):
1)
Varietas
Unggul Baru (Hibrida atau Komposit)
•
Varietas unggul (hibrida atau komposit) merupakan
salah satu komponen teknologi produksi jagung yang memegang peranan penting
dalam meningkatkan produksi jagung nasional.
•
Jagung hibrida sesuai/adaptif untuk lahan subur,
sedangkan jagung komposit sesuai/adaptif untuk lahan marjinal – sedang.
•
Jagung hibrida produktivitasnya lebih tinggi
dibanding jagung komposit.
•
Harga benih jagung hibrida relatif lebih mahal,
sehingga tidak jarang petani menanam F2 atau generasi lanjut.
•
Hasil biji tanaman F2 lebih rendah hingga 20%
dibanding F1.
•
Pembinaan penangkar benih lokal untuk
memproduksi benih jagung hibrida perlu digalakkan, karena hingga kini
baru 35 - 45% dari ±3,5 juta ha lahan jagung ditanami hibrida.
2) Benih Bermutu dan Berlabel dengan Perlakuan
Benih (Seed Treatment) Menggunakan Metalaksil.
• Benih bermutu adalah benih dengan tingkat kemurnian
dan daya tumbuh yang tinggi (>95%) dan berlabel
• Perlakuan benih dengan metalaksil untuk mencegah
penyakit bulai
• Benih bermutu akan tumbuh serentak dan lebih cepat,
menghasilkan tanaman yang sehat, tahan rebah, seragam dan berpotensi hasil
tinggi.
3) Populasi 66.000–75.000 tanaman/ha, jarak
tanam 70–75 cm x 20 cm (1 tanaman per lubang) atau 70–75 cm x 40 cm (2 tanaman
per lubang).
• Populasi tanaman ditentukan oleh jarak tanam dan
mutu benih yang digunakan.
• Benih yang mempunyai daya tumbuh >95%, dapat
memenuhi populasi 66.000 – 75.000 tanaman/ha.
• Dalam budidaya jagung tidak dianjurkan menyulam
karena pengisian biji pada tanaman sulaman tidak optimal.
4) Pemupukan Berdasarkan Kebutuhan Tanaman dan Status Hara Tanah
• Pemberian pupuk berbeda antar lokasi dan jenis
jagung yang digunakan (hibrida atau komposit).
• Pemberian sesuai spesifik lokasi akan meningkatkan
efisiensi pemupukan dan hasil.
Rekomendasi pemupukan N, P dan K tanaman jagung
mengacu kepada salah satu hal berikut:
• Uji Petak Omisi (minus 1 unsur untuk N, P dan K)
• Dosis dan waktu aplikasi pupuk N berdasarkan pada
kebutuhan tanaman (diberikan 2 kali: 7–10 hst dan 28–30 hst. BWD (bagan warna
daun) hanya digunakan pada saat 40–45 hst untuk mendeteksi tingkat kecukupan N
bagi tanaman.
Gejala
Kekurangan Unsur Hara Pada Jagung
:
a. Gejala Kekurangan Nitogen (N)
Daun berwarna kuning pada ujung
daun dan melebar menuju tulang daun. Warna kuning membentuk huruf V. Gejala
nampak pada daun bagian bawah.
b. Gejala Kekurangan Kalium (K)
Daun berwarna kuning, bagian
pinggir biasanya berwarna coklat seperti terbakar, tulang daun tetap hijau.
Gejala warna kuning membentuk huruf V terbalik. Gejala nampak pada daun bagian
bawah.
c. Gejala Kekurangan Posphor (P)
Pinggir daun berwarna ungu
kemerahan mulai dari ujung ke pangkal daun. Gejala nampak pada daun bagian
bawah.
d. Gejala Kekurangan Sulfur (S)
Pangkal daun berwarna kuning. Gejala nampak pada daun yang
terletak dekat pucuk.
Panen Tepat Waktu dan Pengeringan Sesegera Mungkin :
• Panen dilakukan apabila kelobot
tongkol telah mengering atau berwarna coklat, biji telah mengeras, dan telah
terbentuk lapisan hitam (black layer) minimal 50% di setiap baris biji.
• Panen terlalu awal kadar air
masih tinggi dapat berakibat biji keriput, warna kusam, dan bobot biji lebih
ringan.
• Panen terlalu lambat terlebih
saat masih ada hujan dapat menimbulkan tumbuhnya jamur, bahkan biji dapat
berkecambah.
• Panen dilakukan setelah kelobot berwarna coklat dan
biji telah mengeras.
• Tongkol yang sudah dipanen segera dijemur, atau
diangin-anginkan jika kondisi hujan.
• Disarankan tidak menyimpan tongkol dalam keadaan
basah dalam karung karena dapat menimbulkan tumbuhnya jamur.
• Pemipilan dilakukan setelah tongkol kering (kadar
air biji + 20%) dengan alat pemipil.
• Jagung pipil dikeringkan lagi sampai kadar air biji
mencapai sekitar 14%.
Jika cuaca hujan pengeringan dilakukan dengan mesin
pengering, tidak dianjurkan menyimpan biji jagung dalam kondisi kadar air
>14% dalam karung untuk waktu lebih 1 bulan.
2.2 Padi
2.2.1
Sekilas Tentang Padi
Teknologi spesifik lokasi yang
dimiliki suatu daerah, termasuk padi varietas unggul lokal merupakan kebanggaan
tersendiri bagi daerah tersebut. Beberapa Pemerintah Daerah melakukan terobosan
dengan mengajukan varietas lokal untuk dilepas sebagai varietas unggul (
pemutihan). Varietas lokal yang telah berkembang cukup lama pada lingkungan
tetentu telah mengalami seleksi yang cukup panjang, sehingga mampu beradaptasi
dan memberikan potensi hasil yang optimal pada lingkungan tersebut. Namun,
varietas ungul lokal yang telah beradaptasi baik dan menyebar pada
agroekosistem yang sama baik dalam maupun luar kawasan administratif yang
berbeda belum dapat diikuti dengan perbaikan kualitas benih bermutu dan
berlabel. Kegiatan perbaikan mutu benih dapat dilakukan setelah varietas
tersebut dilepas dan melalui proses pelepasan varietas. Hal ini berpedoman pada
undang undang budidaya tanaman yang mengatur pengembangan suatu komoditi harus
melalui proses pelepasan varietas yang dikuatkan dengan SK Menteri Pertanian.
Penggunaan benih bermutu yang berlabel merupakan
program Departemen Pertanian yang harus dipenuhi. Dilain pihak, banyak
varietas-varietas unggul lokal yang cukup diminati petani dan belum ada
varietas unggul baru yang dapat menggantikannya Namun pengembangan varietas
lokal tersebut belum dapat dilakukan secara legal oleh pemerintah karena belum
termasuk benih bina atau belum dilepas melalui proses pelepasan varietas.
Proses pengusulan pelepasan varietas lokal spesifik lokasi harus dilakukan oleh
Pemerintah Kabupaten/Kota asal penyebaran varietas tersebut. Namun bila ada
kecenderungan varietas tersebut berasal dari dua atau lebih Pemkab/Pemko yang
mempunyai keinginan yang sama untuk mengusulkan pelepasan varietas lokal
tersebut maka proses pengusulan dilakukan Pemerintah Provinsi.
Pemerintah Kabupaten/Kota di Sumatera Barat telah melepas tiga varietas padi sawah lokal masing-masing Anak Daro dari Kota Solok, Kuriek Kusuik dari Kabupaten Agam, dan Junjung dari Kabupaten Lima puluh Kota, serta varietas Caredek dari Kabupaten Solok yang telah disidangkan oleh tim pelepasan varietas tanggal 21 Oktober 2009 di Bogor.
Pemerintah Kabupaten/Kota di Sumatera Barat telah melepas tiga varietas padi sawah lokal masing-masing Anak Daro dari Kota Solok, Kuriek Kusuik dari Kabupaten Agam, dan Junjung dari Kabupaten Lima puluh Kota, serta varietas Caredek dari Kabupaten Solok yang telah disidangkan oleh tim pelepasan varietas tanggal 21 Oktober 2009 di Bogor.
2.2.2
Jenis Varietas Ungul Padi
a. Varietas
Anak Daro
Pelepasan
varietas Anak Daro sebagai varietas unggul dituangkan dengan Keputusan Menteri
Pertanian No. 73/Kpts/SR.120/2/2007 berdasarkan usulan Dinas Pertanian Kota
Solok bersama BPTP Sumatera Barat dan BPSB Sumatera Barat setelah melalui
proses identifikasi terhadap varietas lokal yang berkembang dilapangan. Hasil
identifikasi lapangan menunjukkan bahwa dari enam varietas lokal yang
berkembang, sekitar 70% didominasi oleh varietas Anak Daro.
Produktivitas
varietas Anak Daro dilahan petani dari tahun 1999-2002 berkisar antara 5,30
t/ha Pengujian adaptasi Anak Daro bersama enam varietas unggul yang berkembang
di Solok menunjukkan bahwa varietas Anak Daro mampu lebih tinggi hasilnya 1,84
t/ha, dibandingkan hasil varietas Cisokan. Selanjutnya, pengujian adaptasi
selama 2 musim tanam pada 3 lokasi di Tanah Garam, IX Korong, dan Cupak
menunjukkan hasil Anak Daro berkisar antara 5,97 ton/ha - 6,15 t/ha dan hasil
Anak Daro merupakan yang tertinggi pada tiga lokasi selama dua musim tanam.
Pada MK 2005, Anak Daro menghasilkan gabah kering panen rata-rata sebesar 6,29
t/ha dan hasil selama 5 musim tanam dengan waktu yang berbeda menggambarkan
kestabilan hasilnya.
Varietas
Anak Daro juga telah berkembang pada Kabupaten dan Kota lainnya di Sumatera
Barat. Pada tahun 2005, telah dibudidayakan varietas Anak Daro seluas 7.675 ha
di Sumatera Barat. Umur masak panen varietas Anak Daro berkisar 135 hari-145
hari, tinggi tanaman berkisar 105 cm - 121 cm , dan dianjurkan bertanam pada
elevasi kurang 600 m di atas permukaan laut (dpl).
Kelemahan
varietas Anak Daro berkaitan erat dengan kecenderungan keluar malai tidak
sempurna/tertutup oleh kelopak daun bendera. Untuk itu, pengembangan Anak Daro
tidak dianjurkan pada elevasi > 600 m dpl. Keluar malai yang tidak sempurna
menyebabkan kelembaban tinggi pada buku malai dan kondisi ini akan memberi
peluang berkembangnya penyakit blas leher.
b. Varietas
Kuriek Kusuik
Pelepasan
varietas Kuriek Kusuik sebagai varietas unggul dengan nama Kuriek Kusuik
dituangkan dalam Keputusan Menteri Pertanian No. 2229/Kpts/SR.120/5/2009.
Keinginan untuk mengangkat varietas Kuriuk Kusuik didasari pada tidak adanya
varietas unggul yang diadopsi oleh petani padi sawah dataran tinggi di Sumatera
Barat, dilain pihak cukup banyak varietas lokal yang telah beradaptasi dan memberikan
hasil cukup tinggi.
Varietas
Kuriak Kusuik telah berkembang pada beberapa daerah dataran tinggi Sumatera
Barat yang tersebar di Kabupaten Agam, Kota Bukittinggi, Kabupaten Tanah Datar,
Kabupaten Solok, dan Kota Padang Panjang dengan luas tanam 13.807 ha pada tahun
2001, dan meningkat dengan tajam menjadi 23.064 ha pada tahun 2003. Tingginya
animo petani terhadap varietas Kuriek Kusuik mendorong Dinas Pertanian
Kabupaten Agam bersama BPTP Sumatera Barat dan BPSB Sumbar untuk melakukan
permurnian varietas tersebut. Hasil pengujian selama periode tahun 2002-2007
didapatkan hasil sebesar 5,32 t/ha - 6,25 t/ha. Pengujian varietas Kuriek
Kusuik bersama 4 varietas lokal lainnya juga menunjukkan bahwa varietas Kuriek
Kusuik lebih tinggi 1,00 t/ha - 1,5 t/ha. Varietas Kusuik telah mengalami
tekanan seleksi yang cukup lama dengan hasil yang cukup stabil antar musim pada
tahun yang berbeda.
Umur masak
panen varietas Kuriek Kusuik berkisar 135 hari - 155 hari dengan tinggi tanaman
rata-rata 90 -110 cm. Tinggi tempat dianjurkan 50 - 900 m dari permukaan laut.
Bila penanaman dilakukan di dataran rendah maka tanaman cenderung bertambah
tinggi dan berpeluang rebah. Sebaliknya, umur tanaman varietas padi ini bila
ditanam pada elevasi lebih tinggi dari 900 m dpl akan bertambah panjang dan
tanaman akan memendek serta gabah hampa cenderung meningkat.
Penyaluran
beras varietas Kuriek Kusuik ke provinsi tetangga, seperti Jambi, Riau, dan
Kepulauan Riau meningkat setiap tahun dari 10,51 t tahun 2000 menjadi 13,62 t
tahun 2007. Namun, varietas Kuriek Kusuik mempunyai kelemahan akibat malai
cenderung kurang sempurma keluar pada musim hujan. Untuk itu, perlu adanya
penyesuaian musim tanam yang tepat agar saat keluar malai tidak jatuh pada
musim hujan.
c. Varietas
Junjung
Varietas
Junjung dilepas berdasarkan hasil sidang pelepasan varietas dan ditetapkan dengan
Keputusan Menteri Pertanian No. 2229/Kpts/SR.120/5/2009. Pengusulan varietas
ini dilaksanakan Dinas Pertanian Kabupaten Lima puluh Kota bersama BPTP
Sumatera Barat dan BPSB Sumatera Barat.
Varietas
Junjung merupakan salah satu varietas lokal yang telah berkembang sejak 15
tahun yang lalu di Kabupaten Lima puluh Kota. Luas tanam varietas Junjung di
daerah ini meningkat setiap tahunnya secara berturut-turut 6.047 ha, 7.200 ha,
13.401 ha, 18.271 ha, dan 21.655 ha pada tahun 2001; tahun 2002; tahun 2003; tahun
2004, dan tahun 2005. Kondisi ini menunjukkan bahwa animo petani di Kabupaten
Lima puluh Kota untuk menggunakan varietas Junjung cukup tinggi. Varietas
Junjung juga telah berkembang pada Kabupaten/kota lainnya di Sumatera Barat.
Untuk mendukung penyiapan pelepasan varietas tersebut BPSB Sumatera Barat
bersama Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Lima puluh Kota telah
melakukan kegiatan pemurnian sebagai cikal bakal untuk pelepasan varietas.
Pengujian
adaptasi varietas Junjung di Kabupaten Lima puluh Kota menunjukkan bahwa
varietas Junjung mempunyai potensi hasil tertinggi yaitu dengan kisaran 5,50
t/ha - 6,00 t/ha dengan umur masak panen 125 hari. Tinggi tempat untuk budidaya
varietas ini dianjurkan pada daerah yang berada pada ketinggian tempat 50 m -
600 m dpl. Sedangkan kelemahan varietas Junjung adalah agak muda rontok dan
dengan pengendaliannya dapat dilakukan dengan pemupukan KCL.
Keberhasilan
pelepasan varietas unggul lokal berdampak positif terhadap ketersediaan
varietas unggul bermutu dengan klas benih sebar yang dapat meningkatkan
produktivitas tanaman petani secara berkelanjutan. Disamping itu, keberhasilan
ini dapat mendukung tumbuh dan berkembangnya industri benih dalam rangka
penyediaan benih bersertifikat bagi masyarakat serta dapat meningkatkan
keragaman varietas unggul padi sawah di Sumatera Barat. (Syahrul Zen)
2.2.3 PTT (Pengelolaan Tanaman Dan
Sumber Daya Terpadu Padi Sawah)
• PTT merupakan inovasi baru untuk memecahkan kebekuan
peningkatan produktivitas padi
• Teknologi intensifikasi padi bersifat spesifik
lokasi, bergantung pada masalah yang akan diatasi
• Komponen
teknologi PTT ditentukan
bersama-sama petani melalui analisis kebutuhan teknologi
Prinsip Utama Penerapan PTT :
1. Terpadu
Sumberdaya
tanaman,tanah, dan air dikelola dengan baik secara terpadu
2. Sinergis
Pemanfaatan teknologi terbaik, memperhatikan
keterkaitan antar-komponen teknologi yang saling mendukung
3.Spesifik Lokasi
Memperhatikan
kesesuaian teknologi dengan lingkungan fisik, sosial-budaya, dan ekonomi petani setempat
4. Partisipatif
Petani berperan aktif memilih dan menguji teknologi yang sesuai dengan kondisi setempat, dan meningkatkan kemampuan
melalui proses pembelajaran di Laboratorium Lapangan
Strategi Penerapan PTT :
- Anjuran teknologi didasarkan pada bobot sumbangan teknologi terhadap peningkatan produktivitas tanaman, baik terpisah maupun terintegrasi
- Teknologi disuluhkan kepada petani secara bertahap
Komponen
Inovasi Dan Teknologi PTT :
•
Penggunaan varietas
unggul baru,
•
Penggunaan benih bermutu
dan bibit sehat,
•
Pengaturan sistem tanam (jarwo),
•
Penggunaan pupuk
berdasarkan kondisi lahan dan kebutuhan tanaman (Rekomendasi pupuk per kec),
•
Pelaksanaan PHT sesuai OPT
sasaran,
•
Penyiapan lahan optimal
•
Penanaman benih muda (15 hari),
•
Jumlah benih 1-3 batang/rumpun
•
Pemberian kompos atau bahan organik,
•
Pengaturan pengairan secara benar,
•
Perbaikan penanganan panen
dan pasca panen
A.
Komponen Teknologi Utama :
1. Varietas Unggul Baru (VUB)
• VUB adalah varietas yang mempunyai hasil tinggi,
ketahanan terhadap biotik dan abiotik, atau sifat khusus tertentu.
• Pemilihan varietas
berdasarkan ketahanan terhadap OPT, rasa nasi dan permintaan pasar.
VUB spesifik lokasi :
• Inpari 12 - produktivitas tinggi, tahan WBC
• Inpari 21-Batipuah – produktivitas tinggi, toleran
kekeringan
• Logawa
• Tukad Unda
• Inpara 3 toleran rendaman
• Batang Piaman
• Batang Lembang
• Anak Daro
• Junjuang
• Kuriek Kusuik
• Caredek Merah
• Sagamgam Panuah
B.
Benih Bermutu
Seleksi benih :
• Gunakan
larutan ZA atau larutan garam 3% dengan perbandingan 30 gram garam/ZA dalam 1 liter air.
• Jumlah
benih yang dimasukkan disesuaikan dengan volume larutan ZA atau garam. Benih
yang mengambang/mengapung dibuang.
Persiapan Benih :
•
Tempatkan benih terpilih ke dalam kantong kain
strimin (longgar), kemudian rendam dalam air hangat
•
Tiriskan, air dari kantong kain keluarkan dan
letakkan di tempat hangat
•
Seed treatment bila diperlukan
C. Persiapan Lahan
• Sebarkan bahan organik dan benamkan gulma
• Bajak menggunakan ternak, hand-traktor, atau cangkul
• Setelah lahan digenangi dan tanah lunak, jadikan
melumpur
• Ratakan tanah
• Gali saluran di pinggir untuk drainase
D. Persemaian
• Olah tanah dan benamkan gulma
• Bajak menggunakan ternak, hand-traktor, atau cangkul
• Pupuk 20-40 g
Urea/m2
• Setelah lahan digenangi dan tanah lunak, jadikan
melumpur
• Ratakan lahan
• Gali saluran di pinggir untuk drainase
Anjuran
persemaian :
1. Pilih
lokasi yang terbaik agar persemaian mudah
diairi dan mudah pula air dibuang, tidak ternaungi, dan jauh dari lampu.
2. Luas
persemaian kira-kira 4% atau 1/25 dari luas pertanaman.
3. Bajak
hingga tanah melumpur dengan baik.
4. Lebar
persemaian 1,0 – 1,2 m dan panjangnya
sesuai petakan, antara 10-20 m.
5. Tambahkan bahan organik
2 kg/m2 untuk menggemburkan tanah, memudahkan pencabutan bibit, dan mengurangi
kerusakan bibit dan akar.
E. Sistem Tanam Jumlah Benih Dan :
Direkomendasikan menanam benih per rumpun dengan jumlah yang lebih
sedikit. Jumlah benih yang ditanam tidak
lebih dari 3 benih per rumpun.Gunakan jarak tanam beraturan, dari yg biasa 20 cm x 20 cm (25 rmp/m2), 25 cm x 25 cm (16 rmp/m2) menjadi Sistem Jajar Legowo
Catatan:
Populasi tanaman
> 160.000 rmp/ha
Prinsip Jajar Legowo :
• Terdapat lorong panjang bebas tanaman
• Barisan tanaman yang dihilang kan disisipkan kedalam
sisi barisan terdekat
• Sisi barisan yang lain disisip- kan tanaman baru
F. Pemupukan Spesifik Lokasi
• Anjuran pupuk spesifik lokasi memberi peluang
peningkatan hasil dan efisiensi
pemupukan.
Dasar rekomendasi pemupukan padi sawah:
•
BWD (bagan
warna daun) untuk N
•
PUTS
(perangkat uji tanah sawah) untuk P dan K
•
Rekomendasi
Pemupukan per Kecamatan (BPTP Sumbar)
•
PHSL Padi
sawah
Pemupukan
Berimbang :
Pemberian sejumlah pupuk untuk
mencapai tingkat ketersediaan hara esensial yang seimbang dan optimum dalam
tanah, guna:
• Meningkatkan produktivitas dan
mutu hasil tanaman,
• Meningkatkan efisiensi
pemupukan,
• Meningkatkan kesuburan tanah
& lestari,
• Menghindari pencemaran
lingkungan`
• Pemupukan sesuai dengan status hara tanah & kebutuhan tanaman
•
Bentuk pupuk à pupuk tunggal, pupuk
majemuk, atau kombinasi pupuk tunggal dan majemuk
•
Dosis pupuk à sesuai status hara tanah
dan kebutuhan tanaman yang ditetapkan dengan analisis atau uji tanah
•
Jenis pupuk à an organik, organik, hayati
Pupuk An-organik Terbagi 2 ,yaitu :
1. Pupuk Tunggal
•
Berbentuk
padat atau cair
•
Hanya
mengandung satu unsur hara tertentu
•
Lebih mudah
disesuaikan dengan status hara spesifik lokasi
•
Apabila
terjadi kelangkaan pupuk à penyediaan
hara tanaman tidak serentak sesuai kebutuhan
•
Aplikasi &
pemanfaatan kurang efisien
2. Pupuk majemuk
•
Berbentuk
padat atau cair
•
Mengandung dua
atau lebih unsur hara
•
Untuk pupuk
NPK, hara N,P,K tersedia pada waktu yang dibutuhkan tanaman
•
Aplikasi &
pemanfaatan lebih efisien
•
Memerlukan
tambahan pupuk tunggal khususnya untuk padi sawah/side-dressing
Pemupukan
Nitrogen dengan BWD :
•
Pemupukan
dasar 50-75 kg/ha pada 7 - 14 hst. BWD
belum diperlukan.
•
Penggunaan
BWD dimulai 25-28 hst dilakukan setiap 7-10 hari sampai fase primordia (50-60
hst). Untuk hibrida dan PTB sampai 10% berbunga.
•
Pilih
secara acak 10 rumpun tanaman sehat, kemudian pilih daun teratas yang telah
membuka penuh.
•
Tempelkan
bagian tengah daun pada BWD dan bandingkan warnanya. Bila warna daun ada
diantara dua skala, gunakan rataan. Misalnya 3.5 untuk skala 3 dan 4
Pemupukan
P dan K :
• Seluruh pupuk P diberikan sebagai pupuk dasar
bersamaan dengan pemupukan pertama N pada 7-10 hst.
• Bila pupuk K yang diberikan takarannya rendah sampai
sedang (<100 kg KCl/ha), seluruh K diberikan sebagai pupuk dasar, atau
bersamaan dengan pemberian pupuk N yang pertama.
• Dan bila pupuk K yang diberikan takarannya tinggi (>
100 kg KCl/ha), 50% K diberikan sebagai pupuk dasar bersamaan dengan pemberian pupuk N yang
pertama, dan sisanya diberikan pada saat primordia.
Kegunaan Bahan Organik :
•
Meningkatkan
kesuburan dan kandungan karbon organik tanah.
•
Memberikan
tambahan hara.
•
Meningkatkan
aktivitas jasad renik.
•
Memperbaiki
sifat fisik tanah.
•
Mempertahankan
perputaran unsur hara dalam sistem tanah-tanaman
G.
PENGATURAN AIR
Pengairan Secara Efektif dan Efisien (Intermittent)
• Salah satu metode pengairan berselang yang dapat
diukur secara praktis adalah pengairan basah-kering/Alternate Wetting and
Drying (pengaturan air di lahan pada
kondisi tergenang dan kering secara bergantian). Dengan cara ini pemakaian air
dapat dihemat sampai 30%.
• Metode ini dipraktekkan mulai tanam sampai satu
minggu sebelum tanaman berbunga. Sawah baru diairi apabila kedalaman muka air
tanah mencapai + 15 cm, diukur
dari permukaan tanah. Hal ini dapat diketahui dengan bantuan alat sederhana
dari paralon belubang yang dibenamkan ke dalam tanah.
A.
Pengairan berselang (intermitten irrigation) adalah pengaturan kondisi lahan dalam kondisi
kering dan tergenang secara bergantian:
•
Menghemat
air irigasi sehingga areal tanam lebih luas.
•
Akar mendapatkan udara lebih banyak sehingga berkembang lebih dalam.
•
Mencegah timbulnya keracunan besi.
•
Mencegah penimbunan asam organik dan gas H2S
yang menghambat perkembangan akar.
•
Mengaktifkan
jasad renik mikroba yang bermanfaat.
•
Mengurangi
jumlah anakan yang tidak produktif dan
kerebahan
•
Menyeragamkan
pemasakan gabah dan mempercepat waktu panen.
•
Memudahkan
pembenaman pupuk ke dalam tanah (lapisan olah).
•
Memudahkan
pengendalian hama keong mas, mengurangi penyebaran hama wereng coklat dan
penggerek batang, dan kerusakan
tanaman karena hama tikus.
H.
PENYIANGAN
1. Menggunakan Landak/Gasrok
Dilakukan
:
• pada 21 dan 42 hst (saat gulma mulai padat)
• dua arah (jika memungkinkan)
Manfaatnya adalah:
•
ramah
lingkungan
•
hemat tenaga
kerja
•
meningkatkan
jumlah udara dalam tanah, dan
•
merangsang
pertumbuhan akar lebih baik.
I. Pengendalian OPT dengan Pendekatan PHT
Identifikasi jenis dan
penghitungan tingkat populasi hama.
Dilakukan oleh petani dan atau Pengamat OPT melalui kegiatan survei dan
monitoring hama-penyakit tanaman.
Taktik dan teknik pengendalian
:
• Mengusahakan tanaman sehat
• Pengendalian hayati
• Penggunaan varitas tahan
• Mekanik
• Fisik
• Senyawa semi-kimia (hormon)
• Pestisida
J.
PANEN
Panen Tepat Waktu :
•
Panen terlalu awal menyebabkan gabah hampa, gabah
hijau, dan butir kapur lebih banyak. Jika 95% malai menguning, segera panen.
•
Panen terlalu lambat menimbulkan kehilangan hasil
karena banyak gabah yang rontok pada saat di lapangan. Selain itu dalam proses
penggilingan jumlah gabah yang patah akan meningkat
Perontokan Gabah :
• Perontokan gabah sesegera
mungkin, paling lama 1-2 hari setelah panen.
• Perontokan menggunakan alat
perontok.
• Untuk mendapatkan mutu gabah
yang lebih baik dan harga yang lebih tinggi, gabah secepatnya dijemur. (Ratna Wulandari, SP, Msi)
2.3 Teknologi
Padi Salibu
Untuk memacu peningkatan produksi
beras nasional di perlukan beberapa strategi antara lain:
1) perluasan areal tanam denganmencetak
sawah baru,
2) peningkatan produktivitas lahan
dan
3) perluasan areal panen
melaluipeningkatan IP (indeks panen).
Budidaya padi salibu dapat memacu peningkatan produksi
padi dengan meningkatkan IP (indekpertanaman). Beberapa keuntungan budidaya
salibu diantaranya adalah umurnya relatif lebih pendek, kebutuhan air lebih
sedikit, biaya produksi lebih rendah karena penghematan dalam pengolahan
tanah,penanaman,penggunaan bibit dan kemurnian genetik lebih terpelihara.


Pertumbuhan tunas-tunas terjadi
salah satunya karena adanya perlakuan pemangkasan. Tinggi pemangkasan batang
menentukan jumlah mata tunas yang ada untuk pertumbuhan ulang, maka tinggi
pangkasan berpengaruh terhadap kemampuan pembentukan tunas salibu.
Budidaya padi salibu adalah salah
satu inovasi teknologi untuk memacu produktivitas/ peningkatan produksi. Pada
budidaya padi salibu ada beberapa faktor yang berpengaruh antara lain;
1) tinggi pemotongan batang sisa
panen,
2) varietas,
3) kondisi air tanah setelah
panen,dan
4) pemupukan.
Padi Salibu merupakan tanaman padi
yang tumbuh lagi setelah batang sisa panen ditebas/dipangkas, tunasakan muncul
dari buku yang ada di dalam tanah tunas ini akan mengeluarkan akar baru
sehingga suplay hara tidak lagi tergantung pada batang lama,tunas ini bisa
membelah atau bertunas lagi seperti padi tanaman pindah biasa, inilah yang
membuat pertumbuhan dan produksinya sama atau lebih tinggi dibanding tanaman
pertama (ibunya).
Padi salibu berbeda dengan padi
ratun, ratun adalah padi yang tumbuh dari batang sisa panen tanpa dilakukan
pemangkasan batang. tunas akan muncul pada buku palingatas, suplay hara tetap
dari batang lama. Pertumbuhan tunas setelah dipotong sangat dipengaruhi oleh
ketersedian air tanah, dan pada saat panen sebaiknya kondisi air tanah dalam
keadaan kapasitas lapang.
Untuk mengimbangi kebutuhan unsur
hara pada masa pertumbuhan anakan padi. salibu perlu pemupukan yang
cukup,terutama hara nitrogen. Unsur nitrogen merupakan komponen utama dalam
sintesis protein, sehingga sangat dibutuhkan pada fase vegetatif tanaman,
khususnya dalam proses pembelahan sel. Tanaman yang cukup mendapatkan nitrogen
memperlihatkan daun yang hijau tua dan lebar, fotosintesis berjalan dengan
baik,unsur nitrogena dalah faktor penting untuk produktivitas tanaman.
Budidaya salibu akan meningkatkan
indek panen karena,tidak lagi melakukan pengolahan tanah,persemaian dan tanam,
sehingga rentang waktu produksi lebih pendek. Budidaya ini secara tidak lansung
juga dapat menanggulangi keterbatasan varietas unggul, karena pertumbuhan tanaman
selanjutnya terjadi secara vegetative maka mutu varietas tetap sama dengan
tanaman pertama. Budidaya padi salibu akan lebih ekonomis sekitar 45 %dibanding
budidaya tanam pindah,hal inilah yang meningkatkan pendapatan petani.
Metodologi Pelaksanaan Salibu :
1. Menjaga
Kelembaban Tanah
Pada kondisi
lahan sawah yang terlalu kering, segera setelah padi dipanen lahan digenangi
air setinggi ±5 cm selama 2-3 hari, kemudian saluran pembuangan air dilepas
kembali. Tujuannya adalah untuk menjaga kelembapan tanah dan menghindari agar
batang padi yang masih berdiri tidak mati kekeringan.
2. Pemberian
Pupuk Kandang,
Pemotongan batang dan menaburJerami
Sebelum melakukan pemotongan batang, pupuk kandang diberikan pada lahan
terlebih dahulu dengan kebutuhan 1 ton/ha.
Pemotongan dilakukan pada pangkal
batang menggunakan mesin potong rumput dengan ketinggian ± 5 cm dari permukaan
tanah.
Setelah selesai melakukan pemotongan maka semua jerami baik sisa pemanenan ataupun bekas pemotongan batang ditabur mera tadi permukaan lahan. tunggul padi tidak ada yang tertutup oleh tumpukan jerami, kalau itu terjadi maka tunas baru tidak akan tumbuh.
Setelah selesai melakukan pemotongan maka semua jerami baik sisa pemanenan ataupun bekas pemotongan batang ditabur mera tadi permukaan lahan. tunggul padi tidak ada yang tertutup oleh tumpukan jerami, kalau itu terjadi maka tunas baru tidak akan tumbuh.
3. Memupuk Dan
Melumpurkan Tanah
Untuk merangsang pertumbuhan maka
kurang lebih dua minggu setelah pemotongan pangkal batang atau setelah sebagian
besar tunas muncul ke permukaan maka dilakukan pemupukan pertama dengan cara
menaburkan pupuk Urea diantara rumpun padi secara merata sebanyak 150 kg/ ha.
Untuk menjaga pertumbuhan dan ketersediaan air maka pertahankan kondisi air
dipermukaan lahandalam keadaan macak – macak,dimana saluran pemasukan dan
pengeluaran air dalam keadaan tertutup.
Untuk melumpurkan tanahdi hamparan
persawahan maka dilakukan dengan cara menginjak –injak tanah dan jerami
diantara rumpun padi sampai jeraminya terbenam kedalam tanah. Perlakuan
menginjak – injak tanah dan jerami tersebut disamping untuk melumpurkan tanah
danmempercepat proses pelapukan jerami juga sebagai upaya untuk penyiangan.
Penyiangan dilakukan bersamaan dengan pemberian pupuk Urea sebanyak 150 kg/ha.
Pemupukan kedua dilakukan pada
tanaman berumur 40 hari, pupuk yang diberikan adalah SP36 125 kg dan KCl
diberikan sebanyak 25 kg. Pemupukan KCl dilakukan dengan ½ dosis dari dosis
anjuran.
4. Pengendalian
Hama danPenyakit
Karena tidak ada masa berat antara
satu daur hidup tanaman dengan daur hidup berikutnya maka penerapan sistem
budidaya padi salibu akan lebih rentan terhadap berbagai kemungkinan serangan
hama dan penyakit.
5. Panen dan
Pasca Panen
Panen Penentuan saat panen tanaman
pangan bijian merupakan syarat awal mutu yang baik. Pada budidaya padi salibu
panen bisa dilakukan pada umur ± 90 hari. Jika terlambat memanen padi, akan
mengakibatkan banyak biji yanag tercecer atau busuk sehingga mengurangi
produksi. 10 hari menjelang panen sebaiknya sawah dikeringkan, tujuannya adalah
untuk menyerempakkan pematanagan gabah
BAB III PENUTUP
3.1
Kesimpulan
Dari Kegiatan
Kuliah Luar Kampus(KLK)
yang diadakan oleh Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh di BPTP SUMBAR
tepatnya di Sukarami,Kab.Solok.sangat memberikan pengaruh serta ilmu
pengetahuan yang bermanfaat bagi mahasiswa untuk mendukung proses pembelajaran.
Dan dapat memberikan analisa
bagi mahasiswa khususnya untuk memberikan penyuluhan nantinya kepada petani
dari apa yang sudah di dapat disana serta bisa mengaplikasikan nantinya
teknologi yang dipakai yang tidak semuanya diterapkan dipraktek lapangan kampus
politani.
Ada
beberapa kesimpulan mengenai teknologi padi salibu, diantaranya adalah :
1. Ditinjau
dari aspek teknis teknologi padi salibu sangat mudah dilaksanakan karena hemat
waktu dan tenaga kerja. Tidak ada
pekerjaan mengolah tanah, menyemai, menanam. Oleh sebab itu bisa meningkatkan
frekuensi panen dan produksi gabah per tahun.
2. Dari aspek
ekonomi sistem salibu jauh lebih menguntungkan karena dengan biaya input yang
rendah mampu menghasilkan gabah relatif sama dengan yang dihasilkan sistem
konvensional bahkan bisa melebihi dari tanaman utama. Secara sosial ternayata
padi salibu sangat diminati oleh petani, jauh melampaui minat melaksanakan
inovasi teknologi lainnya
3. Padi salibu perakarannya lebih kuat dan areal perakarannya luas sehingga
dalam penyerapan unsur hara dan air lebih efektif sehingga pertubuhan vegetatif
tanaman baik, hal ini sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan generatif
sehingga produksi meningkat
DAFTAR PUSTAKA
http://bbpadi.litbang.pertanian.go.id/index.php/publikasi/panduan-teknis/content/item/235-panduan-teknologi-budidaya-padi-salibu.Di akses
tanggal 29 Desember 2016
http://eight-grade-syndrome.blogspot.co.id/2013/05/jenis-jenis-jagung.html. Di akses tanggal 29 Desember 2016
https://indonesiabertanam.com/2016/03/06/teknologi-salibu-tanam-padi-sekali-panen-lebih-tiga-kali/. Di akses tanggal 29 Desember 2016
http://sumbar.litbang.pertanian.go.id/index.php/program-mainmenu-78. Di akses tanggal 29 Desember 2016
http://sumbar.litbang.pertanian.go.id/index.php/info-tek/87-info-teknologi/201-padi-unggul-lokal-spesifik-sumatera-barat. Di akses tanggal 29 Desember 2016
http://www.seputarpertanian.com/2016/03/7-jenis-jagung-zea-mays-spp-berdasarkan.html. Di akses tanggal 29 Desember 2016
http://www.potretpertanian.com/2016/10/sekali-tanam-bisa-panen-padi-berkali.html. Di akses tanggal 29 Desember 2016
http://www.informasipertanian.com/2013/07/tanam-padi-dengan-sistem-jajar-legowo.html Di akses
tanggal 29 Desember 2016
Hirupbagja.
2009. Budidaya Tanaman/Morfologi Tanaman Padi. html. Blogspot.Com. Di akses
tanggal 29 Desember
2016
Warintek
Bantul. 1999. Budidaya Tanaman/Morfologi Tanaman Padi. html. Blogspot.Com. Di
akses tanggal 29 Desember 2016








Tidak ada komentar:
Posting Komentar