LAPORAN KULIAH LUAR KAMPUS TEKNOLOGI PRODUKSI TANAMAN PANGAN 1 (TPTP1) TENTANG JAGUNG, PADI, DAN TEKNOLOGI PADI SALIBU DI BPTP SUKARAMI SUMATERA BARAT




LAPORAN KULIAH LUAR KAMPUS
TEKNOLOGI PRODUKSI TANAMAN PANGAN 1 (TPTP1)
TENTANG JAGUNG, PADI, DAN TEKNOLOGI PADI SALIBU
DI BPTP SUKARAMI SUMATERA BARAT

Oleh:
TRI NOVELA
15251421016



DOSEN PEMBIMBING :

Ir.Yulensri. M.Si
Nofrianil SP.M.Si
Fedri Ibnusina SP.MP









PROGRAM STUDI MANAJEMEN PRODUKSI PERTANIAN

JURUSAN BUDIDAYA TANAMAN PANGAN

POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI PAYAKUMBUH

2016

BAB I PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sumatera Barat adalah unit pelaksana teknis (UPT) Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Badan Litbang Pertanian) di daerah yang dibentuk berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian (SK Mentan) nomor 798/Kpts/OT.210/12/94 tanggal 13 Desember 1994.
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sumatera Barat merupakan Unit Pelaksana Teknis (UPT) di bidang penelitian dan pengembangan pertanian yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, dan dalam pelaksanaan tugas sehari-hari dikoordinasikan oleh Kepala Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian (BBP2TP), ditetapkan sesuai dengan Peraturan Menteri Pertanian Nomor: 16/Permentan/OT.140/2006 tanggal 1 Maret 2006 dengan wilayah kerja Propinsi Sumatera Barat.
Berawal pada tahun 1952 di desa Sukarami Kabupaten Solok didirikan suatu stasiun  penelitian kecil yang disebut Balai Penyelidikan Teknik Pertanian yang berada di bawah Balai Penyelidikan Pertanian Bogor. Tugas utama stasiun ini adalah melakukan penelitian yang direncanakan di Bogor untuk daerah Sumatera Barat.
            Pada tahun 1962 stasiun ini berganti nama menjadi Perwakilan Kebun  Percobaan Sumatera Barat dan lokasinya pindah ke Bandar Buat, Padang. Tugas  utamanya melaksanakan penelitian yang direncanakan di Bogor. Tahun 1968 namanya berubah lagi menjadi Lembaga Pusat Penelitian Pertanian (LP3) Perwakilan  Sumatera Barat. Pada tahun 1980 lembaga ini secara resmi dinamakan Balai Penelitian  Tanaman Pangan Sukarami, namun lokasinya masih di sekitar Bandar Buat. Pada  tahap ini perencanaan kegiatan penelitian sudah dilaksanakan oleh balitan  sukarami dengan arahan dari Puslitbangtan. Hal ini karena pembangunan fasilitas yang mulai sejak tahun 1979 belum selesai.
Baru pada tahun 1983 balai ini secara fisik pindah ke Sukarami  sesuai dengan namanya waktu itu. Melalui Surat Keputusan Pertanian nomor  789/Kpts/OT.210/12/94 tanggal 13 Desember 1994, dibentuk Balai Pengkajian  Teknologi Pertanian (BPTP) Sukarami. Namun sekarang namanya telah diubah menjadi”Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sumatera Barat”.
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sumatera Barat merupakan Unit Pelaksana Teknis (UPT) di bidang penelitian dan pengembangan pertanian yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, dan dalam pelaksanaan tugas sehari-hari dikoordinasikan oleh Kepala Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian (BBP2TP), ditetapkan sesuai dengan Peraturan Menteri Pertanian Nomor: 16/Permentan/OT.140/2006 tanggal 1 Maret 2006 dengan wilayah kerja Propinsi Sumatera Barat.
BPTP Sumatera Barat telah mengalami beberapa kali perubahan sebelumnya bernama Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sukarami dibentuk berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian No.798/KPTS/OT.210/12/94 tanggal 4 November 1994 yang merupakan penggabungan Balai Penelitian Tanaman Pangan (Balittan) Sukarami dengan Balai Informasi Pertanian (BIP) Sumbar, BIP Bengkulu, Sub Balai Penelitian Rempah dan Obat-obatan (Balitro) Laing dan Laboratorium Bukittinggi dengan wilayah kerja mencakup Propinsi Sumatera Barat (Sumbar) dan Propinsi Bengkulu.
Sampai saat ini, BPTP Sumbar telah merekomendasikan 48 paket teknologi pertanian yang mencakup varietas unggul baru, teknologi budidaya pertanian, teknologi pengolahan hasil pertanian, dan rekomendasi kebijakan peranian  secara spesifik lokasi dan  berwawasan agribisnis. Pendampingan BPTP Sumbar yang dilakukan dalam pelaksanaan Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu (SLPTT) padi sawah melalui display VUB (varietas unggul baru) padi sawah telah membantu 10 buah kabupaten/kota mendapat penghargaan Presiden RI tahun 2012 sebagai daerah yang  mampu meningkatkan  produksi padi diatas 5%. Disamping itu, Menteri Pertanian RI memberikan penghargaan kepada kota Padang sebagai pelaksana Model Kawasan Rumah Pangan Lestari terbaik tahun 2012. BPTP Sumbar saat ini juga melakukan pelaksanaan Model Pengembangan Pertanian Melaui Inovasi di Kabupaten Padang Pariaman dan Kabuypaten Pasaman Barat guna mendukung Program Gerakan Pensejahteraan Petani yang dicanangkan Pemeritah Propinsi Sumatera Barat yang pelaksanaannya selama 5 tahun dimulai pada tahun 2011.
1.2 Tujuan
1.      Mengetahui teknologi yang telah diterapkan di BPTP-SUMBAR
2.      Mengetahui informasi tentang jagung dan padi menurut BPTP SUKARAMI SUMBAR
3.      Mengetahui tentang teknologi padi salibu di BPTP SUKARAMI SUMBAR





















BAB II HASIL & PEMBAHASAN

2.1  Jagung
2.1.1   Pengertian Tanaman Jagung
Tanaman Jagung merupakan keluarga dari rumput-rumputan(Poaceae) dan tergolong kedalam jenis-jenis tanaman pangan tipe serealia (Biji-Bijian) dengan morfologi jagung yang berakar serabut,berbatang tegak,beruas,memiliki daun sempurna,berumah satu (Monoecious) menjadi karakteristik tanaman jagung itu sendiri.
2.1.2 Berdasarkan Tipe Bentuk Biji (Endosperma) dan Tektur Biji Jagung dapat digolongkan menjadi 7 tipe jagung :
a.      Jagung Mutiara (Flint corn). Jagung ini banyak dibudidayakan petani di Indonesia karena keunggulanya tahan terhadap hama digudang pada saat penyimpanan.ciri dari jagung mutiara antara lain memiliki bentuk biji yang bulat,sedikit keras,licin dan mengkilap pada permukaan atas biji jagung tersebut.
  1. Jagung Manis (Sweet corn). Jagung manis merupakan salah satu jenis jagung yang paling banyak dibudidaya di Indonesia khususnya,karena rasa manis dan banyak dijadikan jajanan pasar aneka rasa.ciri dari jagung manis antara lain bulat,lembut,dan banyak mengandung kadar gula yang terdapat pada pati jagung tersebut.
  2. Jagung Gigi Kuda (Dent corn). Jagung gigi kuda adalah tipe jagung sangat populer dan disukai di Amerika dan Eropa.ciri dari jagung kuda ini berbentuk pipih,berlekuk,besar,bagian keras pada biji terdapat pada ditengah sampai ujung biji tersebut,mudah kehilangan air sehingga cepat sekali biji mengerut dan keras.
  3. Jagung Pod (Pod corn). Jenis jagung pod merupakan salah jenis primitif karena seluruh biji jagung tertutup oleh glume atau kelobot,jenis jagung ini jarang sekali dibudidayakan secara komersil sehingga tidak jarang petani jagung yang mengetahui jenis jagung tersebut.
  4. Jagung Brondong (Pop corn). Jenis jagung brondong  banyak dijadikan cemilan atau jajanan ringan atau lebih umum dikenal dengan Popcorn.ciri dari jagung popcorn ini biji berukuran kecil,endospern banyak mengandung air sehingga pada saat dilakukan pemanasaan pada biji tersebut akan membesar dan pecah.
  5. Jagung Ketan atau Pulut (Waxy corn). Jenis jagung ketan atau pulut lebih populer digunakan sebagai bahan perekat dan bahan campuran makanan karena seluruh kandungan pati jagung ini mengandung 100 persen (%) amilopektine.
  6. Jagung Tepung (Floury corn)Jenis jagung floury corn banyak dibudidayakan Negara Amerika Selatan tetapnya di Peru dan Bolivia,ciri khusus pada jenis jagung ini mengandung pati yang lunak,bentuk biji pipih,tipis dan keras.
2.1.2   Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) Jagung
Karakteristik Tanaman Jagung :
         Tanaman berumah satu
         Bunga jantan berupa malai
         Bunga betina berupa tongkol
         Bakal biji dilindungi tangkai putik berupa rambut, jika siap dibuahi rambut memanjang sampai keluar dari tongkol
         Bunga jantan lebih dahulu masak 1-3 hari
         Menyerbuk silang
         Penyerbukan sendiri < 5 %
         Mudah terjadi kontaminasi: dapat diserbuki   oleh tanaman yang ada didekatnya
Jenis Jagung :
      Komposit/Bersari Bebas
      Dibentuk dari beberapa galur murni atau berbagai plasmanutfah.
      Peyerbukan secara acak antar tanaman dalam varietas.
      Tanaman biasanya tidak seragam.
      Hasil panen dapat digunakan sabagai benih musim berikut.
Contoh: Lamuru, Sukmaraga
1.      Jagung Bersari Bebas
      Penyerbukan acak antar tanaman dalam varietas.
      Digolongkan menjadi 2, yaitu Sintetik dan Komposit.
      Sintetik dibentuk dari beberapa galur inbrida yang mempunyai daya gabung umum baik dan diikuti seleksi.
      Komposit dibentuk dari galur inbrida, populasi, dan atau varietas yang tidak dilakukan uji gaya gabung terlebih dahulu.
      Keseragaman hanya dalam beberapa karakter karena belum mencapai puncak fiksasi.
2.      Hibrida
      Dibentuk dari persilangan antara varietas bersari bebas atau populasi dengan galur atau hibrida, persilangan antara galur dengan galur.
      Potensi hasil lebih tinggi, tanaman lebih seragam.
      Benih turunan potensinya menurun.
Contoh: BISI-2, Pioneer, C7,  Bima-1, Bima-2,  Bima-3, Bima-4, dsb.
      Var Hibrida: Benih yang digunakan untuk pertanaman produksi adalah benih generasi pertama (F1)  dari hasil persilangan dua (atau lebih) tetua berbeda
      Hibrida:  Silang Tunggal
                                    Silang Tiga
                                    Silang Ganda
      Dasar genetik pemuliaan hibrida : adanya fenomena vigor hibrida atau heterosis
      Yaitu suatu kecendrungan bhw individu atau populasi F1 akan tampil lebih baik dibandingkan dengan salah satu tetua atau rata-rata kedua tetua pembentuknya
Lingkungan Tumbuh Ideal Untuk Jagung:
      Menjelang akhir musim hujan
      Tanah bertekstur ringan sampai sedang
      Tersedia air cukup selama pertumbuhan (terutama saat awal vegetatif, pembentukan bunga dan penyerbukan serta saat pengisian biji)
      Lahan Tidak Tergenang Air
      Ketinggian Tempat Sampai 1.000 M Dpl.
Komponen Teknologi Dalam PTT  :
a.       Komponen Teknologi Dasar
Komponen Teknologi Yang Relatif Dapat Berlaku Umum Di Wilayah Yang Luas :
  1. varietas unggul (hibrida atau komposit)
  2. benih bermutu (seed treatment)
  3. populasi tanaman 66.600 – 75.000 tanaman/ha
  4. pemupukan berimbang
b.       Komponen Teknologi Pilihan
Komponen Teknologi Lebih Bersifat Spesifik Lokasi :
  1. penyiapan lahan (tanpa olah tanah atau olah tanah sempurna)
  2. bahan organik, pupuk kandang, amelioran
  3. penyiangan gulma dengan herbisida atau manual
  4. pengendalian hama dan penyakit yang tepat sasaran
  5. cara penanganan panen dan pasca panen
c.       varietas unggul baru (hibrida atau komposit)
Komponen Teknologi Dasar (Compulsory):
1)                  Varietas Unggul Baru  (Hibrida atau Komposit)
      Varietas unggul (hibrida atau komposit) merupakan salah satu komponen teknologi produksi jagung yang memegang peranan penting dalam meningkatkan produksi jagung nasional.
      Jagung hibrida sesuai/adaptif untuk lahan subur, sedangkan jagung komposit sesuai/adaptif untuk lahan marjinal – sedang.
      Jagung hibrida produktivitasnya lebih tinggi dibanding jagung komposit.
      Harga benih jagung hibrida relatif lebih mahal, sehingga tidak jarang petani menanam F2 atau generasi lanjut.
      Hasil biji tanaman F2 lebih rendah hingga 20% dibanding F1. 
      Pembinaan penangkar benih lokal  untuk  memproduksi benih jagung hibrida perlu digalakkan, karena hingga kini baru 35 - 45% dari ±3,5 juta ha lahan jagung ditanami hibrida.
2)   Benih Bermutu dan Berlabel dengan Perlakuan Benih (Seed Treatment) Menggunakan Metalaksil.
      Benih bermutu adalah benih dengan tingkat kemurnian dan daya tumbuh yang tinggi (>95%) dan berlabel
      Perlakuan benih dengan metalaksil untuk mencegah penyakit bulai
      Benih bermutu akan tumbuh serentak dan lebih cepat, menghasilkan tanaman yang sehat, tahan rebah, seragam dan berpotensi hasil tinggi.
3)   Populasi 66.000–75.000 tanaman/ha, jarak tanam 70–75 cm x 20 cm (1 tanaman per lubang) atau 70–75 cm x 40 cm (2 tanaman per lubang).
      Populasi tanaman ditentukan oleh jarak tanam dan mutu benih yang digunakan.
      Benih yang mempunyai daya tumbuh >95%, dapat memenuhi populasi 66.000 – 75.000 tanaman/ha.
      Dalam budidaya jagung tidak dianjurkan menyulam karena pengisian biji pada tanaman sulaman tidak optimal.
4)        Pemupukan Berdasarkan Kebutuhan Tanaman dan Status Hara Tanah
      Pemberian pupuk berbeda antar lokasi dan jenis jagung yang digunakan (hibrida atau komposit).
      Pemberian sesuai spesifik lokasi akan meningkatkan efisiensi pemupukan dan hasil.
Rekomendasi pemupukan N, P dan K tanaman jagung mengacu kepada salah satu hal berikut:
      Uji Petak Omisi (minus 1 unsur untuk N, P dan K)
      Dosis dan waktu aplikasi pupuk N berdasarkan pada kebutuhan tanaman (diberikan 2 kali: 7–10 hst dan 28–30 hst. BWD (bagan warna daun) hanya digunakan pada saat 40–45 hst untuk mendeteksi tingkat kecukupan N bagi tanaman.
Gejala Kekurangan Unsur Hara Pada Jagung :
a.       Gejala Kekurangan Nitogen (N)
Daun berwarna kuning pada ujung daun dan melebar menuju tulang daun. Warna kuning membentuk huruf V. Gejala nampak pada daun bagian bawah.
b.      Gejala Kekurangan Kalium (K)
Daun berwarna kuning, bagian pinggir biasanya berwarna coklat seperti terbakar, tulang daun tetap hijau. Gejala warna kuning membentuk huruf V terbalik. Gejala nampak pada daun bagian bawah.
c.       Gejala Kekurangan Posphor (P)
Pinggir daun berwarna ungu kemerahan mulai dari ujung ke pangkal daun. Gejala nampak pada daun bagian bawah.
d.      Gejala Kekurangan Sulfur (S)
Pangkal daun berwarna kuning. Gejala nampak pada daun yang terletak dekat pucuk.
Panen Tepat Waktu dan Pengeringan Sesegera Mungkin :
      Panen dilakukan apabila kelobot tongkol telah mengering atau berwarna coklat, biji telah mengeras, dan telah terbentuk lapisan hitam (black layer) minimal 50% di setiap baris biji.
      Panen terlalu awal kadar air masih tinggi dapat berakibat biji keriput, warna kusam, dan bobot biji lebih ringan.
      Panen terlalu lambat terlebih saat masih ada hujan dapat menimbulkan tumbuhnya jamur, bahkan biji dapat berkecambah.
      Panen dilakukan setelah kelobot berwarna coklat dan biji telah mengeras.
      Tongkol yang sudah dipanen segera dijemur, atau diangin-anginkan jika kondisi hujan.
      Disarankan tidak menyimpan tongkol dalam keadaan basah dalam karung karena dapat menimbulkan tumbuhnya jamur.
      Pemipilan dilakukan setelah tongkol kering (kadar air biji + 20%) dengan alat pemipil.
     Jagung pipil dikeringkan lagi sampai kadar air biji mencapai sekitar 14%.
Jika cuaca hujan pengeringan dilakukan dengan mesin pengering, tidak dianjurkan menyimpan biji jagung dalam kondisi kadar air >14% dalam karung untuk waktu lebih 1 bulan.
2.2  Padi
2.2.1        Sekilas Tentang Padi
Teknologi spesifik lokasi yang dimiliki suatu daerah, termasuk padi varietas unggul lokal merupakan kebanggaan tersendiri bagi daerah tersebut. Beberapa Pemerintah Daerah melakukan terobosan dengan mengajukan varietas lokal untuk dilepas sebagai varietas unggul ( pemutihan). Varietas lokal yang telah berkembang cukup lama pada lingkungan tetentu telah mengalami seleksi yang cukup panjang, sehingga mampu beradaptasi dan memberikan potensi hasil yang optimal pada lingkungan tersebut. Namun, varietas ungul lokal yang telah beradaptasi baik dan menyebar pada agroekosistem yang sama baik dalam maupun luar kawasan administratif yang berbeda belum dapat diikuti dengan perbaikan kualitas benih bermutu dan berlabel. Kegiatan perbaikan mutu benih dapat dilakukan setelah varietas tersebut dilepas dan melalui proses pelepasan varietas. Hal ini berpedoman pada undang undang budidaya tanaman yang mengatur pengembangan suatu komoditi harus melalui proses pelepasan varietas yang dikuatkan dengan SK Menteri Pertanian.
Penggunaan benih bermutu yang berlabel merupakan program Departemen Pertanian yang harus dipenuhi. Dilain pihak, banyak varietas-varietas unggul lokal yang cukup diminati petani dan belum ada varietas unggul baru yang dapat menggantikannya Namun pengembangan varietas lokal tersebut belum dapat dilakukan secara legal oleh pemerintah karena belum termasuk benih bina atau belum dilepas melalui proses pelepasan varietas. Proses pengusulan pelepasan varietas lokal spesifik lokasi harus dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota asal penyebaran varietas tersebut. Namun bila ada kecenderungan varietas tersebut berasal dari dua atau lebih Pemkab/Pemko yang mempunyai keinginan yang sama untuk mengusulkan pelepasan varietas lokal tersebut maka proses pengusulan dilakukan Pemerintah Provinsi.

Pemerintah Kabupaten/Kota di Sumatera Barat telah melepas tiga varietas padi sawah lokal masing-masing Anak Daro dari Kota Solok, Kuriek Kusuik dari Kabupaten Agam, dan Junjung dari Kabupaten Lima puluh Kota, serta varietas Caredek dari Kabupaten Solok yang telah disidangkan oleh tim pelepasan varietas tanggal 21 Oktober 2009 di Bogor.
2.2.2   Jenis Varietas Ungul Padi
a.      Varietas Anak Daro
Pelepasan varietas Anak Daro sebagai varietas unggul dituangkan dengan Keputusan Menteri Pertanian No. 73/Kpts/SR.120/2/2007 berdasarkan usulan Dinas Pertanian Kota Solok bersama BPTP Sumatera Barat dan BPSB Sumatera Barat setelah melalui proses identifikasi terhadap varietas lokal yang berkembang dilapangan. Hasil identifikasi lapangan menunjukkan bahwa dari enam varietas lokal yang berkembang, sekitar 70% didominasi oleh varietas Anak Daro.
Produktivitas varietas Anak Daro dilahan petani dari tahun 1999-2002 berkisar antara 5,30 t/ha Pengujian adaptasi Anak Daro bersama enam varietas unggul yang berkembang di Solok menunjukkan bahwa varietas Anak Daro mampu lebih tinggi hasilnya 1,84 t/ha, dibandingkan hasil varietas Cisokan. Selanjutnya, pengujian adaptasi selama 2 musim tanam pada 3 lokasi di Tanah Garam, IX Korong, dan Cupak menunjukkan hasil Anak Daro berkisar antara 5,97 ton/ha - 6,15 t/ha dan hasil Anak Daro merupakan yang tertinggi pada tiga lokasi selama dua musim tanam. Pada MK 2005, Anak Daro menghasilkan gabah kering panen rata-rata sebesar 6,29 t/ha dan hasil selama 5 musim tanam dengan waktu yang berbeda menggambarkan kestabilan hasilnya.
Varietas Anak Daro juga telah berkembang pada Kabupaten dan Kota lainnya di Sumatera Barat. Pada tahun 2005, telah dibudidayakan varietas Anak Daro seluas 7.675 ha di Sumatera Barat. Umur masak panen varietas Anak Daro berkisar 135 hari-145 hari, tinggi tanaman berkisar 105 cm - 121 cm , dan dianjurkan bertanam pada elevasi kurang 600 m di atas permukaan laut (dpl).
Kelemahan varietas Anak Daro berkaitan erat dengan kecenderungan keluar malai tidak sempurna/tertutup oleh kelopak daun bendera. Untuk itu, pengembangan Anak Daro tidak dianjurkan pada elevasi > 600 m dpl. Keluar malai yang tidak sempurna menyebabkan kelembaban tinggi pada buku malai dan kondisi ini akan memberi peluang berkembangnya penyakit blas leher.

b. Varietas Kuriek Kusuik
Pelepasan varietas Kuriek Kusuik sebagai varietas unggul dengan nama Kuriek Kusuik dituangkan dalam Keputusan Menteri Pertanian No. 2229/Kpts/SR.120/5/2009. Keinginan untuk mengangkat varietas Kuriuk Kusuik didasari pada tidak adanya varietas unggul yang diadopsi oleh petani padi sawah dataran tinggi di Sumatera Barat, dilain pihak cukup banyak varietas lokal yang telah beradaptasi dan memberikan hasil cukup tinggi.
Varietas Kuriak Kusuik telah berkembang pada beberapa daerah dataran tinggi Sumatera Barat yang tersebar di Kabupaten Agam, Kota Bukittinggi, Kabupaten Tanah Datar, Kabupaten Solok, dan Kota Padang Panjang dengan luas tanam 13.807 ha pada tahun 2001, dan meningkat dengan tajam menjadi 23.064 ha pada tahun 2003. Tingginya animo petani terhadap varietas Kuriek Kusuik mendorong Dinas Pertanian Kabupaten Agam bersama BPTP Sumatera Barat dan BPSB Sumbar untuk melakukan permurnian varietas tersebut. Hasil pengujian selama periode tahun 2002-2007 didapatkan hasil sebesar 5,32 t/ha - 6,25 t/ha. Pengujian varietas Kuriek Kusuik bersama 4 varietas lokal lainnya juga menunjukkan bahwa varietas Kuriek Kusuik lebih tinggi 1,00 t/ha - 1,5 t/ha. Varietas Kusuik telah mengalami tekanan seleksi yang cukup lama dengan hasil yang cukup stabil antar musim pada tahun yang berbeda.
Umur masak panen varietas Kuriek Kusuik berkisar 135 hari - 155 hari dengan tinggi tanaman rata-rata 90 -110 cm. Tinggi tempat dianjurkan 50 - 900 m dari permukaan laut. Bila penanaman dilakukan di dataran rendah maka tanaman cenderung bertambah tinggi dan berpeluang rebah. Sebaliknya, umur tanaman varietas padi ini bila ditanam pada elevasi lebih tinggi dari 900 m dpl akan bertambah panjang dan tanaman akan memendek serta gabah hampa cenderung meningkat.
Penyaluran beras varietas Kuriek Kusuik ke provinsi tetangga, seperti Jambi, Riau, dan Kepulauan Riau meningkat setiap tahun dari 10,51 t tahun 2000 menjadi 13,62 t tahun 2007. Namun, varietas Kuriek Kusuik mempunyai kelemahan akibat malai cenderung kurang sempurma keluar pada musim hujan. Untuk itu, perlu adanya penyesuaian musim tanam yang tepat agar saat keluar malai tidak jatuh pada musim hujan.

c. Varietas Junjung
Varietas Junjung dilepas berdasarkan hasil sidang pelepasan varietas dan ditetapkan dengan Keputusan Menteri Pertanian No. 2229/Kpts/SR.120/5/2009. Pengusulan varietas ini dilaksanakan Dinas Pertanian Kabupaten Lima puluh Kota bersama BPTP Sumatera Barat dan BPSB Sumatera Barat.
Varietas Junjung merupakan salah satu varietas lokal yang telah berkembang sejak 15 tahun yang lalu di Kabupaten Lima puluh Kota. Luas tanam varietas Junjung di daerah ini meningkat setiap tahunnya secara berturut-turut 6.047 ha, 7.200 ha, 13.401 ha, 18.271 ha, dan 21.655 ha pada tahun 2001; tahun 2002; tahun 2003; tahun 2004, dan tahun 2005. Kondisi ini menunjukkan bahwa animo petani di Kabupaten Lima puluh Kota untuk menggunakan varietas Junjung cukup tinggi. Varietas Junjung juga telah berkembang pada Kabupaten/kota lainnya di Sumatera Barat. Untuk mendukung penyiapan pelepasan varietas tersebut BPSB Sumatera Barat bersama Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Lima puluh Kota telah melakukan kegiatan pemurnian sebagai cikal bakal untuk pelepasan varietas.
Pengujian adaptasi varietas Junjung di Kabupaten Lima puluh Kota menunjukkan bahwa varietas Junjung mempunyai potensi hasil tertinggi yaitu dengan kisaran 5,50 t/ha - 6,00 t/ha dengan umur masak panen 125 hari. Tinggi tempat untuk budidaya varietas ini dianjurkan pada daerah yang berada pada ketinggian tempat 50 m - 600 m dpl. Sedangkan kelemahan varietas Junjung adalah agak muda rontok dan dengan pengendaliannya dapat dilakukan dengan pemupukan KCL.
Keberhasilan pelepasan varietas unggul lokal berdampak positif terhadap ketersediaan varietas unggul bermutu dengan klas benih sebar yang dapat meningkatkan produktivitas tanaman petani secara berkelanjutan. Disamping itu, keberhasilan ini dapat mendukung tumbuh dan berkembangnya industri benih dalam rangka penyediaan benih bersertifikat bagi masyarakat serta dapat meningkatkan keragaman varietas unggul padi sawah di Sumatera Barat. (Syahrul Zen)
2.2.3 PTT (Pengelolaan Tanaman Dan Sumber Daya Terpadu Padi Sawah)
     PTT merupakan inovasi baru untuk memecahkan kebekuan peningkatan produktivitas padi
     Teknologi intensifikasi padi bersifat spesifik lokasi, bergantung pada masalah yang akan diatasi 
     Komponen  teknologi  PTT ditentukan bersama-sama petani melalui analisis kebutuhan teknologi
Prinsip Utama Penerapan PTT :
1. Terpadu
Sumberdaya  tanaman,tanah, dan air dikelola dengan baik secara terpadu
2. Sinergis
Pemanfaatan teknologi terbaik, memperhatikan keterkaitan antar-komponen teknologi yang saling mendukung
3.Spesifik Lokasi
Memperhatikan kesesuaian teknologi dengan lingkungan fisik, sosial-budaya, dan ekonomi petani setempat
4. Partisipatif
Petani berperan aktif memilih dan menguji  teknologi yang sesuai dengan kondisi setempat, dan meningkatkan kemampuan melalui proses pembelajaran di Laboratorium Lapangan
Strategi Penerapan PTT :
  1. Anjuran teknologi didasarkan pada bobot sumbangan teknologi terhadap peningkatan produktivitas tanaman, baik terpisah maupun terintegrasi
  2. Teknologi disuluhkan kepada petani secara bertahap
Komponen  Inovasi Dan Teknologi  PTT :
      Penggunaan varietas unggul baru,
      Penggunaan benih bermutu dan bibit sehat,
      Pengaturan  sistem tanam (jarwo),
      Penggunaan pupuk berdasarkan kondisi lahan dan kebutuhan tanaman (Rekomendasi pupuk per kec),
      Pelaksanaan PHT sesuai OPT sasaran,
      Penyiapan lahan optimal
      Penanaman benih muda (15 hari),
      Jumlah benih 1-3 batang/rumpun
      Pemberian kompos atau bahan organik,
      Pengaturan pengairan secara benar,
      Perbaikan penanganan panen dan pasca panen
A.    Komponen Teknologi Utama :
1.      Varietas Unggul Baru (VUB)
      VUB adalah varietas yang mempunyai hasil tinggi, ketahanan terhadap biotik dan abiotik, atau sifat khusus tertentu.
      Pemilihan varietas berdasarkan ketahanan terhadap OPT, rasa nasi dan permintaan pasar.
VUB spesifik lokasi :
      Inpari 12 - produktivitas tinggi, tahan WBC
      Inpari 21-Batipuah – produktivitas tinggi, toleran kekeringan
      Logawa
      Tukad Unda
      Inpara 3 toleran rendaman
      Batang Piaman
      Batang Lembang
      Anak Daro
      Junjuang
      Kuriek Kusuik
      Caredek Merah
      Sagamgam Panuah
B.     Benih Bermutu
Seleksi benih :
      Gunakan larutan ZA atau larutan garam 3% dengan perbandingan 30 gram garam/ZA  dalam 1 liter air.
      Jumlah benih yang dimasukkan disesuaikan dengan volume larutan ZA atau garam. Benih yang mengambang/mengapung dibuang.
Persiapan Benih :
         Tempatkan benih terpilih ke dalam kantong kain strimin (longgar), kemudian rendam dalam air hangat
         Tiriskan, air dari kantong kain keluarkan dan letakkan di tempat hangat
         Seed treatment  bila diperlukan
C.     Persiapan Lahan
      Sebarkan bahan organik dan benamkan gulma
      Bajak menggunakan ternak, hand-traktor, atau cangkul
      Setelah lahan digenangi dan tanah lunak, jadikan melumpur
      Ratakan tanah
      Gali saluran di pinggir untuk drainase
D.    Persemaian
      Olah tanah dan benamkan gulma
      Bajak menggunakan ternak, hand-traktor, atau cangkul
      Pupuk 20-40 g  Urea/m2
      Setelah lahan digenangi dan tanah lunak, jadikan melumpur
      Ratakan lahan
      Gali saluran di pinggir untuk  drainase
Anjuran persemaian :
1.      Pilih lokasi yang terbaik agar persemaian mudah  diairi dan mudah pula air dibuang, tidak   ternaungi, dan jauh dari lampu.
2.      Luas persemaian kira-kira 4% atau 1/25 dari luas pertanaman.
3.      Bajak hingga tanah melumpur dengan baik.
4.      Lebar persemaian 1,0 – 1,2 m dan panjangnya   sesuai petakan, antara 10-20 m.
5.      Tambahkan  bahan organik  2 kg/m2 untuk menggemburkan tanah, memudahkan   pencabutan bibit, dan mengurangi kerusakan   bibit dan akar.

E.     Sistem Tanam Jumlah Benih Dan :
            Direkomendasikan menanam benih per rumpun dengan jumlah yang lebih sedikit.  Jumlah benih yang ditanam tidak lebih dari 3 benih per rumpun.Gunakan jarak tanam beraturan, dari yg biasa 20 cm x 20 cm (25 rmp/m2),  25 cm x 25 cm (16 rmp/m2) menjadi Sistem Jajar Legowo
Catatan:
Populasi tanaman > 160.000 rmp/ha
Prinsip Jajar Legowo :
      Terdapat lorong panjang bebas tanaman
      Barisan tanaman yang dihilang kan disisipkan kedalam sisi barisan terdekat
      Sisi barisan yang lain disisip- kan tanaman baru

F.      Pemupukan Spesifik Lokasi
      Anjuran pupuk spesifik lokasi memberi peluang peningkatan hasil dan  efisiensi pemupukan.
Dasar rekomendasi pemupukan padi sawah:
      BWD (bagan warna daun) untuk  N
      PUTS (perangkat uji tanah sawah) untuk P dan K
      Rekomendasi Pemupukan per Kecamatan (BPTP Sumbar)
      PHSL Padi sawah
Pemupukan Berimbang :
Pemberian sejumlah pupuk untuk mencapai tingkat ketersediaan hara esensial yang seimbang dan optimum dalam tanah, guna:
     Meningkatkan produktivitas dan mutu hasil tanaman,
     Meningkatkan efisiensi pemupukan,
     Meningkatkan kesuburan tanah & lestari,
     Menghindari pencemaran lingkungan`
      Pemupukan sesuai dengan status hara tanah & kebutuhan tanaman
      Bentuk pupuk à pupuk tunggal, pupuk majemuk, atau kombinasi pupuk tunggal dan majemuk
      Dosis pupuk à sesuai status hara tanah dan kebutuhan tanaman yang ditetapkan dengan analisis atau uji tanah
      Jenis pupuk à an organik, organik, hayati
Pupuk An-organik Terbagi 2 ,yaitu :
1.      Pupuk Tunggal
      Berbentuk padat atau cair
      Hanya mengandung satu unsur hara tertentu
      Lebih mudah disesuaikan dengan status hara spesifik lokasi
      Apabila terjadi kelangkaan pupuk à penyediaan hara tanaman tidak serentak sesuai kebutuhan
      Aplikasi & pemanfaatan kurang efisien
2.      Pupuk majemuk
      Berbentuk padat atau cair
      Mengandung dua atau lebih unsur hara
      Untuk pupuk NPK, hara N,P,K tersedia pada waktu yang dibutuhkan tanaman
      Aplikasi & pemanfaatan lebih efisien
      Memerlukan tambahan pupuk tunggal khususnya untuk padi sawah/side-dressing
Pemupukan Nitrogen dengan BWD :
         Pemupukan dasar 50-75 kg/ha pada    7 - 14 hst. BWD belum diperlukan.
         Penggunaan BWD dimulai 25-28 hst dilakukan setiap 7-10 hari sampai fase primordia (50-60 hst). Untuk hibrida dan PTB sampai 10% berbunga.
         Pilih secara acak 10 rumpun tanaman sehat, kemudian pilih daun teratas yang telah membuka penuh.
         Tempelkan bagian tengah daun pada BWD dan bandingkan warnanya. Bila warna daun ada diantara dua skala, gunakan rataan. Misalnya 3.5 untuk skala 3 dan 4
Pemupukan P dan K :
     Seluruh pupuk P diberikan sebagai pupuk dasar bersamaan dengan pemupukan pertama N pada 7-10 hst.
     Bila pupuk K yang diberikan takarannya rendah sampai sedang (<100 kg KCl/ha), seluruh K diberikan sebagai pupuk dasar, atau bersamaan dengan pemberian pupuk N yang pertama.
     Dan bila pupuk K yang diberikan takarannya tinggi (> 100 kg KCl/ha), 50% K diberikan sebagai pupuk dasar  bersamaan dengan pemberian pupuk N yang pertama, dan sisanya diberikan pada saat primordia.
Kegunaan Bahan Organik :
      Meningkatkan kesuburan dan kandungan karbon organik tanah.
      Memberikan tambahan hara.
      Meningkatkan aktivitas jasad renik.
      Memperbaiki sifat fisik tanah.
      Mempertahankan perputaran unsur hara dalam sistem tanah-tanaman
G.    PENGATURAN AIR
Pengairan Secara Efektif dan Efisien (Intermittent)
      Salah satu metode pengairan berselang yang dapat diukur secara praktis adalah pengairan basah-kering/Alternate Wetting and Drying (pengaturan air di lahan  pada kondisi tergenang dan kering secara bergantian). Dengan cara ini pemakaian air dapat dihemat sampai 30%.
      Metode ini dipraktekkan mulai tanam sampai satu minggu sebelum tanaman berbunga. Sawah baru diairi apabila kedalaman muka air tanah mencapai  + 15 cm, diukur dari permukaan tanah. Hal ini dapat diketahui dengan bantuan alat sederhana dari paralon belubang yang dibenamkan ke dalam tanah.
A. Pengairan berselang (intermitten irrigation)  adalah pengaturan kondisi lahan dalam kondisi kering dan tergenang secara bergantian:
        Menghemat air irigasi sehingga areal tanam lebih luas.
        Akar  mendapatkan udara lebih banyak sehingga  berkembang lebih dalam.
         Mencegah timbulnya keracunan besi.
         Mencegah penimbunan asam organik dan gas H2S yang menghambat perkembangan akar.
        Mengaktifkan jasad renik mikroba yang bermanfaat.
        Mengurangi jumlah anakan yang tidak produktif  dan kerebahan
        Menyeragamkan pemasakan gabah dan mempercepat waktu panen.
        Memudahkan pembenaman pupuk ke dalam tanah (lapisan olah).
        Memudahkan pengendalian hama keong mas, mengurangi penyebaran hama wereng coklat dan penggerek batang, dan  kerusakan tanaman  karena hama tikus.
H.    PENYIANGAN
1.      Menggunakan Landak/Gasrok
Dilakukan :
      pada 21 dan 42 hst (saat gulma mulai padat)
      dua arah (jika memungkinkan)
Manfaatnya adalah:
      ramah lingkungan
      hemat tenaga kerja
      meningkatkan jumlah udara dalam  tanah, dan
      merangsang pertumbuhan akar lebih baik.

I.       Pengendalian OPT dengan Pendekatan PHT
Identifikasi jenis dan penghitungan tingkat populasi hama. Dilakukan oleh petani dan atau Pengamat OPT melalui kegiatan survei dan monitoring hama-penyakit tanaman.
Taktik dan teknik pengendalian :
     Mengusahakan tanaman sehat
     Pengendalian hayati
     Penggunaan varitas tahan
     Mekanik
     Fisik
     Senyawa semi-kimia (hormon)
     Pestisida
J.       PANEN
Panen Tepat Waktu :
      Panen terlalu awal menyebabkan gabah hampa, gabah hijau, dan butir kapur lebih banyak. Jika 95% malai menguning, segera panen.
      Panen terlalu lambat menimbulkan kehilangan hasil karena banyak gabah yang rontok pada saat di lapangan. Selain itu dalam proses penggilingan jumlah gabah yang patah akan meningkat
Perontokan Gabah :
      Perontokan gabah sesegera mungkin, paling lama 1-2 hari setelah panen.
      Perontokan menggunakan alat perontok.
      Untuk mendapatkan mutu gabah yang lebih baik dan harga yang lebih tinggi, gabah  secepatnya dijemur. (Ratna Wulandari, SP, Msi)

2.3  Teknologi Padi Salibu
Untuk memacu peningkatan produksi beras nasional di perlukan beberapa strategi antara lain:
1) perluasan areal tanam denganmencetak sawah baru,
2) peningkatan produktivitas lahan dan
3) perluasan areal panen melaluipeningkatan IP (indeks panen).
Budidaya padi salibu dapat memacu peningkatan produksi padi dengan meningkatkan IP (indekpertanaman). Beberapa keuntungan budidaya salibu diantaranya adalah umurnya relatif lebih pendek, kebutuhan air lebih sedikit, biaya produksi lebih rendah karena penghematan dalam pengolahan tanah,penanaman,penggunaan bibit dan kemurnian genetik lebih terpelihara.
Description: image
Pertumbuhan tunas-tunas terjadi salah satunya karena adanya perlakuan pemangkasan. Tinggi pemangkasan batang menentukan jumlah mata tunas yang ada untuk pertumbuhan ulang, maka tinggi pangkasan berpengaruh terhadap kemampuan pembentukan tunas salibu.
Description: image

Budidaya padi salibu adalah salah satu inovasi teknologi untuk memacu produktivitas/ peningkatan produksi. Pada budidaya padi salibu ada beberapa faktor yang berpengaruh antara lain;
1) tinggi pemotongan batang sisa panen,
2) varietas,
3) kondisi air tanah setelah panen,dan
4) pemupukan.
Padi Salibu merupakan tanaman padi yang tumbuh lagi setelah batang sisa panen ditebas/dipangkas, tunasakan muncul dari buku yang ada di dalam tanah tunas ini akan mengeluarkan akar baru sehingga suplay hara tidak lagi tergantung pada batang lama,tunas ini bisa membelah atau bertunas lagi seperti padi tanaman pindah biasa, inilah yang membuat pertumbuhan dan produksinya sama atau lebih tinggi dibanding tanaman pertama (ibunya).
Padi salibu berbeda dengan padi ratun, ratun adalah padi yang tumbuh dari batang sisa panen tanpa dilakukan pemangkasan batang. tunas akan muncul pada buku palingatas, suplay hara tetap dari batang lama. Pertumbuhan tunas setelah dipotong sangat dipengaruhi oleh ketersedian air tanah, dan pada saat panen sebaiknya kondisi air tanah dalam keadaan kapasitas lapang.
Description: image
Untuk mengimbangi kebutuhan unsur hara pada masa pertumbuhan anakan padi. salibu perlu pemupukan yang cukup,terutama hara nitrogen. Unsur nitrogen merupakan komponen utama dalam sintesis protein, sehingga sangat dibutuhkan pada fase vegetatif tanaman, khususnya dalam proses pembelahan sel. Tanaman yang cukup mendapatkan nitrogen memperlihatkan daun yang hijau tua dan lebar, fotosintesis berjalan dengan baik,unsur nitrogena dalah faktor penting untuk produktivitas tanaman.
Budidaya salibu akan meningkatkan indek panen karena,tidak lagi melakukan pengolahan tanah,persemaian dan tanam, sehingga rentang waktu produksi lebih pendek. Budidaya ini secara tidak lansung juga dapat menanggulangi keterbatasan varietas unggul, karena pertumbuhan tanaman selanjutnya terjadi secara vegetative maka mutu varietas tetap sama dengan tanaman pertama. Budidaya padi salibu akan lebih ekonomis sekitar 45 %dibanding budidaya tanam pindah,hal inilah yang meningkatkan pendapatan petani.
Metodologi Pelaksanaan Salibu :
1.      Menjaga Kelembaban Tanah
Pada kondisi lahan sawah yang terlalu kering, segera setelah padi dipanen lahan digenangi air setinggi ±5 cm selama 2-3 hari, kemudian saluran pembuangan air dilepas kembali. Tujuannya adalah untuk menjaga kelembapan tanah dan menghindari agar batang padi yang masih berdiri tidak mati kekeringan.

2.      Pemberian Pupuk Kandang,
Pemotongan batang dan menaburJerami Sebelum melakukan pemotongan batang, pupuk kandang diberikan pada lahan terlebih dahulu dengan kebutuhan 1 ton/ha.
Pemotongan dilakukan pada pangkal batang menggunakan mesin potong rumput dengan ketinggian ± 5 cm dari permukaan tanah.
Setelah selesai melakukan pemotongan maka semua jerami baik sisa pemanenan ataupun bekas pemotongan batang ditabur mera tadi permukaan lahan. tunggul padi tidak ada yang tertutup oleh tumpukan jerami, kalau itu terjadi maka tunas baru tidak akan tumbuh.
3.      Memupuk Dan Melumpurkan Tanah
Untuk merangsang pertumbuhan maka kurang lebih dua minggu setelah pemotongan pangkal batang atau setelah sebagian besar tunas muncul ke permukaan maka dilakukan pemupukan pertama dengan cara menaburkan pupuk Urea diantara rumpun padi secara merata sebanyak 150 kg/ ha. Untuk menjaga pertumbuhan dan ketersediaan air maka pertahankan kondisi air dipermukaan lahandalam keadaan macak – macak,dimana saluran pemasukan dan pengeluaran air dalam keadaan tertutup.
Untuk melumpurkan tanahdi hamparan persawahan maka dilakukan dengan cara menginjak –injak tanah dan jerami diantara rumpun padi sampai jeraminya terbenam kedalam tanah. Perlakuan menginjak – injak tanah dan jerami tersebut disamping untuk melumpurkan tanah danmempercepat proses pelapukan jerami juga sebagai upaya untuk penyiangan. Penyiangan dilakukan bersamaan dengan pemberian pupuk Urea sebanyak 150 kg/ha.
Pemupukan kedua dilakukan pada tanaman berumur 40 hari, pupuk yang diberikan adalah SP36 125 kg dan KCl diberikan sebanyak 25 kg. Pemupukan KCl dilakukan dengan ½ dosis dari dosis anjuran.
4.      Pengendalian Hama danPenyakit
Karena tidak ada masa berat antara satu daur hidup tanaman dengan daur hidup berikutnya maka penerapan sistem budidaya padi salibu akan lebih rentan terhadap berbagai kemungkinan serangan hama dan penyakit.
5.      Panen dan Pasca Panen
Panen Penentuan saat panen tanaman pangan bijian merupakan syarat awal mutu yang baik. Pada budidaya padi salibu panen bisa dilakukan pada umur ± 90 hari. Jika terlambat memanen padi, akan mengakibatkan banyak biji yanag tercecer atau busuk sehingga mengurangi produksi. 10 hari menjelang panen sebaiknya sawah dikeringkan, tujuannya adalah untuk menyerempakkan pematanagan gabah



















BAB III PENUTUP

3.1  Kesimpulan
Dari Kegiatan Kuliah Luar Kampus(KLK) yang diadakan oleh Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh di BPTP SUMBAR tepatnya di Sukarami,Kab.Solok.sangat memberikan pengaruh serta ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi mahasiswa untuk mendukung proses pembelajaran. Dan dapat memberikan analisa bagi mahasiswa khususnya untuk memberikan penyuluhan nantinya kepada petani dari apa yang sudah di dapat disana serta bisa mengaplikasikan nantinya teknologi yang dipakai yang tidak semuanya diterapkan dipraktek lapangan kampus politani.
Ada beberapa kesimpulan mengenai teknologi padi salibu, diantaranya adalah :
1.    Ditinjau dari aspek teknis teknologi padi salibu sangat mudah dilaksanakan karena hemat waktu dan tenaga kerja.  Tidak ada pekerjaan mengolah tanah, menyemai, menanam. Oleh sebab itu bisa meningkatkan frekuensi panen dan produksi gabah per tahun. 
2.    Dari aspek ekonomi sistem salibu jauh lebih menguntungkan karena dengan biaya input yang rendah mampu menghasilkan gabah relatif sama dengan yang dihasilkan sistem konvensional bahkan bisa melebihi dari tanaman utama. Secara sosial ternayata padi salibu sangat diminati oleh petani, jauh melampaui minat melaksanakan inovasi teknologi lainnya
3.    Padi salibu perakarannya lebih kuat dan areal perakarannya luas sehingga dalam penyerapan unsur hara dan air lebih efektif sehingga pertubuhan vegetatif tanaman baik, hal ini sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan generatif sehingga produksi meningkat


DAFTAR PUSTAKA

http://padisalibusatu.blogspot.co.id/. Di akses tanggal 29 Desember 2016
Hirupbagja. 2009. Budidaya Tanaman/Morfologi Tanaman Padi. html. Blogspot.Com. Di akses tanggal 29 Desember 2016
Warintek Bantul. 1999. Budidaya Tanaman/Morfologi Tanaman Padi. html. Blogspot.Com. Di akses tanggal 29 Desember 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar