LAPORAN
DASAR-DASAR AGRONOMI
“PENGAMATAN
BIJI DORMANSI”
OLEH
SILVIA
DEWITA
Bp.
1311311016
DOSEN
PEMBIMBING :
Ir. Hj. NELSON ELITA, MP

PROGRAM STUDI MANAJEMEN PRODUKSI
PERTANIAN
JURUSAN BUDIDAYA TANAMAN PANGAN
POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI PAYAKUMBUH
TANJUNG PATI
2014
“PENGAMATAN
BIJI DORMANSI”
I.
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Dormansi
biji berhubungan dengan usaha biji untuk menunda perkecambahannya, hingga waktu
dan kondisi lingkungan memungkinkan untuk melakukan proses tersebut.
Dormansi dapat terjadi pada kulit biji maupun pada embrio. Biji yang
telah masak dan siap untuk berkecambah membutuhkan kondisi klimatik dan tempat
tumbuh yang sesuai untuk dapat mematahkan dormansi dan memulai proses
perkecambahannya (Anonim, 2008).
Pada
perkecambahan tumbuhan tidak memulai kehidupan, akan tetapi meneruskan
pertumbuhan dan perkembangan yang secara temporer dihentikan ketika biji
menjadi dewasa dan embrionya menjadi tidak aktif. Biji jenis lain bersifat
dorman dan tidak akan berkecambah, meskipun disesuaikan dalam tempat yang
menguntungkan sampai petunjuk lingkungan tertentu menyebabkan biji mengakhiri
dormansi tersebut (Goldworthy, 1992).
Dormansi terjadi dalam berbagai bentuk. Banyak biji dorman untuk suatu perioda
waktu setelahnya keluar dari buah. Pohon melepaskan daun-daunnya untuk
menghindari bahaya pada waktu udara menjadi dingin dan kering serta tanah
membeku. Banyak tumbuhan basah, bagian atasnya mati selama perioda musim dingin
atau kekeringan, sedangkan bagian yang ada dibawah seperti bulbus, lormus atau
umbi tetap hidup, tetapi dalam keadaan dorman (Tim Dosen, 2008).
Untuk mematahkan dormansi pada biji karena kulit biji yang keras perlu
dilakukan perlakuan fisik maupun kimia. Hal inilah yang melatarbelakangi
sehingga percobaan ini dilakukan.
1.2 Tujuan Percoban
Adapuntujuan pelaksanaan praktikum adalah :
1. Mengembangkan
wawasan dan pengetahuan tentang benih
2.
Mengetahui benih yang
mengalami masa dormansi
3.
Dapat melakukan penanganan dan pematahan benih yang mengalami masa
dormansi
4.
Melindungi biji dari serangan hama
dan penyakit
5.
Melakukan pengamatan terhadap biji
yang akan dijadikan sebagai benih
6. Mendapatkan
biji yang bermutu
II.
TINJAUAN
PUSTAKA
Dorman
artinya tidur atau beristirahat. Para ahli biologi menggunakan istilah
itu untuk tahapan siklus hidup, seperti biji dorman, yang memiliki laju
metabolisme yang sangat lambat dan sedang tidak tumbuh dan berkembang. Dormansi
pada biji meningkatkan peluang bahwa perkecambahan akan terjadi pada waktu dan
tempat yang paling menguntungkan bagi pertumbuhan biji. Pengakhiran periode
dormansi umumnya memerlukan kondisi lingkungan yang tertentu, biji tumbuhan
gurun, misalnya hanya berkecambah setelah hujan rintik-rintik yang sedang,
tanah mungkin akan terlalu cepat kering sehingga tidak dapat mendukung
pertumbuhan biji (Campbell, 2000).
Dormansi adalah suatu keadaan dimana
pertumbuhan tidak terjadi walaupun kondisi lingkungan mendukung untuk
terjadinya perkecambahan. Pada beberapa jenis varietas tanaman tertentu,
sebagian atau seluruh benih menjadi dorman sewaktu dipanen, sehingga masalah
yang sering dihadapi oleh petani atau pemakai benih adalah bagaimana cara
mengatasi dormansi tersebut (Anonim, 2008).
Dormansi merupakan suatu mekanisme
untuk mempertahankan diri terhadap suhu yang sangat rendah (membeku) pada
musim dingin, atau kekeringan di musim panas yang merupakan bagian
penting dalam perjalanan hidup tumbuhan tersebut. Dormansi harus berjalan pada
saat yang tepat, dan membebaskan diri atau mendobrak dan apabila kondisi
sudah memungkinkan untuk memulai pertumbuhan (Salisbury dan Ross, 1995).
Berdasarkan faktor penyebabnya, dormansi dapat dibagi
atas dua macam, yaitu Impoised dormancy (quiscense) dan imnate dormancy (rest).
Imposed dormancy (quiscence) adalah terhalangnya pertumbuhan aktif karena
keadaan lingkungan yang tidak menguntungkan. Sedangkan imnate dormancy (rest)
adalah dormansi yang disebabkan oleh keadaan atau kondisi di dalam organ-organ
biji itu sendiri (Dwidjoseputro, 1994).
Berdasarkan mekanisme dormansi dalam
biji, dormansi dapat dibedakan atas dua macam, yaitu mekanisme fisik dan
mekanisme fisiologis. Mekanisme fisik merupakan dormansi yang mekanisme
penghambatannya disebabkan oleh organ biji itu sendiri, terbagi menjadi mekanis
: embrio tidak berkembang karena dibatasi secara fisik, fisik : penyerapan air
terganggu karena kulit biji yang impermeabel, kimia : bagian biji/buah
mangandung zat kimia penghambat. Sedangkan mekanisme fisiologis merupakan
dormansi yang disebabkan oleh terjadinya hambatan dalam proses fisiologis
(Anonim, 2008).
Contoh paling mudah mengenai
dormansi adalah adanya kulit biji yang keras yang menghalangi penyerapan
oksigen atau air. Kulit biji yang keras itu lazim terdapat pada anggota famili
Pabaceae (Leguminosae), walaupun tidak terdapat pada buncis atau kapri,
yang menunjukkan bahwa dormansi tidak umum pada spesies yang dibudidayakan.
Pada beberapa spesies, air dan oksigen tidak dapat menembus biji tertentu
karena jalan masuk dihalangi oleh sumpal seperti gabus (sumpal strofiolar) pada
lubang kecil (lekah strofiolar) di kulit biji. Bila biji digoncang-goncang,
kadang sumpal itu lepas sehingga dapat berlangsung perkecambahan. Perlakuan itu
dinamakan goncangan, dan telah diterapkan pada biji Melilotusalba
(semanggi manis), Trigonella arabica, dan Crotallariaegyptica, Albizzia
lophantha merupakan tumbuhan kacangan berukuran kecil di Australia Barat
bagian barat daya (Salisbury dan Ross, 1995).
Ciri-ciri biji yang mempunyai dormansi
ini adalah (Anonim, 2008) :
Biji dibentuk dengan adanya
perkembangan bakal biji. Pada saat pembuahan tabung benang sari memasuki
kantung embrio melalui mikropil dan menempatkan dua buah inti gamet jantan
padanya. Satu diantaranya bersatu dengan inti sel telur dan yang lain bersatu
dengan dua inti polar dan hasil penyatuannya, yakni inti sekunder, penyatuan
gamet jantan yang lain dengan kedua inti polar menghasilkan inti sel endosperm
yang pertama yang akan membelah menghasilkan jaringan endosperm, sedangkan
penyatuan gamet jantan dengan sel telur akan menghasilkan zigot yang tumbuh
menjadi embrio. Proses yang melibatkan kedua macam pembuahan (penyatuan)
tersebut dinamakan pembuahan ganda. Biji masak terdiri dari tiga bagian embrio
dan endosperm (keduanya hasil pembelahan ganda, serta kulit biji yang dibentuk
oleh dinding bakal biji) termasuk kedua intergumennya (Dwidjoseputro, 1994).
Senyawa penghambat kimia sering juga
terdapat dalam biji, dan senyawa penghambat ini harus dikeluarkan lebih dahulu
sebelum perkecambahan dapat berlangsung. Di alam, bila terdapat cukup curah
hujan yang dapat mencuci penghambat dari biji, tanah akan cucup basah bagi
kecambah baru untuk bertahan hidup (Went, 1957). Hal ini khususnya penting di
gurun, karena kelembapan lebih menentukan daripada faktor lain seperti suhu.
Vest (1972) mendapatkan bahwa biji Atriplex mengandung cukup banyak
natrium klorida untuk menghambat perkecambahan biji secara osmotik. biasanya
senyawa penghambat lebih rumit daripada garam dapur dan penghambat mewakili
berbagai macam kelompok senyawa organik. Beberapa di antaranya adalah kompleks pelepas-sianida
(khususnya biji Rosaceae), sedangkan lainnya adalah senyawa pelepas-amonia
(Salisbury dan Ross, 1995).
Zat pengahambat ini ada berbagai
macam jenisnya. Zat-zat penghambat tersebut pada umumnya dikenal dengan nama
inhibitor. Zat-zat penghambat ini akan menunda terjadinya perkecambahan,
meskipun kondisi lingkungan sudah sangat mendukung untuk terjadinya suatu
proses perkecambahan (Tjitrosoma, 1984).
Biji yang telah masak dan siap untuk
berkecambah membutuhkan kondisi klimatik dan tempat tumbuh yang sesuai untuk
dapat mematahkan dormansi dan memulai proses perkecambahannya. Preatment
skarifikasi digunakan untuk mematahkan dormansi kulit biji, sedangkan
stratifikasi digunakan untuk mengatasi dormansi embrio (Anonim, 2008).
Pemecahan kulit biji dinamakan
skarifikasi atau penggoresan. Untuk itu digunakan pisau, kikir dan kertas
amplas. Di alam, goresan tersebut mungikin terjadi akibat kerja mikroba, ketika
biji melewati alat pencernaan pada burung atau hewan lain, biji terpajan pada
suhu yang berubah-ubah, atau terbawa air melintasi pasir atau cadas. Di
laboratorium dan bidang pertanian (bila perlu) digunakan alkohol atau pelarut
lemak lain (yang menghilangkasn badan berliln yang kadang menghalangi
masuknya air) atau asam pekat. Sebagai contoh, perkecambahan biji kapas dari
berbagai tanaman kacangan tropika dapat sangat dipacu dengan merendam biji
terlebih dahulu dalam asam sulfat selama beberapa menit sampai satu jam, dan
selanjutnya dibilas untuk menghilangkan asam itu (Salisbury dan Ross, 1995).
Skarifikasi merupakan salah satu upaya pretreatment
atau perawatan awal pada benih, yang ditujukan untuk memetahkan dormansi, serta
mempercepat terjadinya perkecambahan biji yang seragam. Upaya ini dapat berupa
pemberian perlakuan secara fisis, melanis, maupun chemis (Anonim, 2008).
Skarifikasi secara ekologi sangat
penting. Waktu yang diperlukan untuk menuntaskan skarifikasi secara alami dapat
mencegah terjadinya perkecambahn dini pada musim gugur atau selama periode
panas yang tidak lazim pada musim dingin. Skarifikasi dalam alat pecernaaan
burung atau hewan lain menyebabkan perkecambahan biji setelah biji tersebar
lebih luas. Biji yang tercuci selama terbawa aliran air di gurun tidak hanya di
gurun tidak hanya mengalami skarifikasi, tetapi sering berakhir ditempat yang
banyak mengandung air. Dean Vest (19720 memperlihatkan hubungan simbiosis dan
mutualisme antara fungi dan biji Atriplez confertifolia yang tumbuh di
kulit biji, merekahkan kuli tiu sehingga perkecambahan dapat berlangsung.
Pertumbuhan fungi terjadi hanya bila kondisi suhu dan kelembapan sesuai baginya
selama awal musim semi, yaitu waktu yang paling tepat bagi kecambah untuk
dapat bertahan hidup (Salisbury dan Ross, 1995).
Ahli fisiologi benih biasanya
menetapkan perkecambahan sebagai suatu kejadian yang diawali dengan imbibisi
dan diakhiri ketika radikula (akar lembaga) atau kotiledon atau hipokopotil
memanjang atau muncul melewati kulit biji. Biji dapat tetap viabel (hidup),
tetapi tak dapat berkecambah atau tumbuh karena beberapa penyebab, baik itu
berasal dari luar maupun dari dalam biji itu sendiri. Peristiwa ini kemudian
kita kenal dengan istilah dormansi biji. Dormansi pada biji merupakan suatu
peristiwa dimana biji tertahan atau terhambat untuk berkecambah. Dormansi pada
biji ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya biji yang belum
matang dalam hal ini adalah embrio yang masih immature, kondisi lingkungan yang
tidak mendukung untuk terjadinya suatu proses perkecambahan, dan lain-lain
(Goldworthy, 1992).
Apakah yang menyebabkan biji pada
buah tomat yang masak tidak berkecambah dalam buah? Padahal, suhunya biasanya
sangat sesuai dan kelembapan serta oksigennya pun cukup. Bila biji dikeluarkan
dari buah, dikeringkan, dan ditanam, biji itu segera berkecambah; ini menunjukkan
bahwa biji itu segera berkecambah jika diambil langsung dan dibiarkan
mengambang di atas permukaan air. Di dalam buah, potensial osmotik buah terlalu
negatif untuk perkecambahan. Zat penghambat khusus mungkin juga ada, persis
seperti ABA dalam endosperma yang sedang berkembang dari biji afalfa, yang
berfungsi sebagai penghambat perkecambahan embrio. Buah lain menyaring panjang
gelombang yang diperlukan untuk untuk perkecambahan (Salisbury dan Ross, 1995).
III.
PELAKSANAAN
PRATIKUM
Tanaman yang akan dilakukan
perbanyakan secara generatif dengan menggunakan biji adalah mangga, jeruk,
bawang merah, apel, melinjo dan kelapa sawit dengan alat dan bahan yang
digunakan antara lain :
Alat :
Ø Seed bed
Ø Pisau
Ø Batu Asah
Ø Kantong Plastik
Ø Kantong
Kertas
Bahan :
Ø Bawang merah
Ø Jeruk
Ø Mangga
Ø Melinjo
Ø Kelapa sawit
Ø H2SO4 1-5 %
Ø ZPT IAA
Ø Tanah dan
pupuk kandang
Ø
Pelaksanaan
:
1. Pelaksanan Minggu I
ü Seleksi biji dan kupas kulit biji serta
bersihkan kulit umbi bawang merah
ü Simpan biji yang telah diseleksi selama 1
minggu
ü Amati selama penyimpanan biji dan umbi
tersebut
2.
Pelaksanaan Minggu II
a. Persiapkan alat dan bahan yang akan digunakan
b. Lakukan pematahan masa dormansi dengan
memberikan perlakuan :
o Merendam
biji dengan menggunakan IAA selama 15 menit untuk biji mangga,jeruk, dan
melinjo.
o Untuk bawang
merah, biji tidak kita rendam secara keseluruhan akan tetapi dengan memotong
1/3 bagian pada bagian atas kemudian dicelupkan pada cairan IAA
o Untuk kelapa
sawit pematahan masa dormansi dilakukan dengan merendam biji kelapa sawit
dengan larutan H2SO4 selama satu jam.
o Setelah
dilakukan pematahan masa dormansi, biji dikecambahkan pada seedbed yang telah
berisi media tanah dan pupuk kandang serta lakukan penyiraman yang bertujuan
untuk menjaga kelembaban biji, selama biji dikecambahkan jangan sampai
tergenang karena akan membuat biji menjadi busuk
o Lakukan
pengamatan terhadap biji yang dikecambahkan tersebut.
IV.
HASIL DAN PEMBAHASAN
A.
HASIL
Pengamatan Biji
Dormansi
|
No.
|
Komoditi
|
Jml Yang Ditanam
|
Jml Yang Tumbuh
|
Daya Kecambah
|
|
1
|
Bawang
Merah
|
16
buah
|
12
buah
|
75
%
|
|
2
|
Jeruk
|
11
biji
|
8
biji
|
72.73
%
|
|
3
|
Sawit
|
19
biji
|
0
|
0
%
|
|
4
|
Melinjo
|
7
biji
|
0
|
0
%
|
|
5
|
Manggga
|
1
biji
|
0
|
0
%
|
1. Bawang
Merah
2. Jeruk
3. Sawit
4. Melinjo
5. Mangga
Hasil Pengamatan :
1.
Bawang
Merah
|
|
Sampel 1
|
Sampel 2
|
Sampel 3
|
Rata-rata
|
|
Tinggi Tanaman
|
23.2
cm
|
23
cm
|
25.5
cm
|
23.9 cm
|
|
Jumlah Daun
|
15
helai
|
11
helai
|
13
helai
|
13 helai
|
2.
Jeruk
|
|
Sampel 1
|
Sampel 2
|
Sampel 3
|
Rata-rata
|
|
Tinggi Tanaman
|
6.5
cm
|
5.4
cm
|
6.7
cm
|
6.2 cm
|
|
Jumlah Daun
|
2
helai
|
2
helai
|
2
helai
|
2 helai
|
B.
PEMBAHASAN
1.
Bawang
Merah
Bibit
merupakan modal dasar yang paling penting dalam bercocok tanam bawang merah.
Bibit yang jelek akan menghasilkan tanaman yang lemah dan hasilnya rendah. Bawang
merah adalah salah satu komoditi yang mudah tumbuh dan cepat berkecambah karena
berair dan kulitnya yang tipis.Bawang merah bisa tumbuh dengan mudah dengan
catatan kelembaban tanahny a tidak terlalu tinggi dan jangan sampai pada air
tergenang karena bawang merah mudah busuk. Pada percobaan kali ini kami
melakukan pematahan masa dormansi pada bawang merah, dari 16 bibit yang kami
tanam hanya mampu tumbuh sebanyak 12 bibit. Jadi daya kecambah dari bawang
merah pada percobaan kami ini adalah 75 %. Hal ini dikarenakan bibit yang kami
gunakan kurang bagus dan sudah ada yang mulai busuk.
2.
Jeruk
Dari
11 biji jeruk yang kami semai yang tumbuh hanya 8, sehingga daya kecambah dari
biji jeruk yang kami amati hanya 72.73 %. Ini merupak hasil yang sudah cukup
bagus, dan biji yang tidak tumbuh menurut pengamatan kami dikarenakan
pematangan buah yang belum sempurna sehingga bibit yang dihasilkan tidak
sempurna dan sulit untuk berkecambah.
Bibit
yang dihasilkan ada yang masih muda dan kisut. Ada juga yang terluka saat mengeluarkannya
dari daging buah.
Faktor
lain yang mungkin menyebabkan biji ini tidak tumbuh adalah kesalahan dalam
memasukkannya kedalam lubang persemaian. Sehingga tunas yang tumbuh mengarah
kebawah dan sulit untuk muncul kepermukaan tanah dan akhirnya membusuk.
3.
Sawit
Dari
19 buah biji sawit yang disemai dan telah diperlakukan dengan baik sesuai
dengan prosedur kerja yang telah diajarkan oleh dosen pembimbing dan dengan
penyiraman yang teratur biji-biji ini tidak ada satupun yang berkecambah
sehingga daya kecambahnya adalah 0 %.
Menurut Mangoensoekarjo dan Semangun (2005) ketika
baru dipanen, benih kelapa sawit mengalami dormansi dan perkecambahan alami
sangat jarang terjadi selama lebih dari beberapa tahun. Dormansi adalah suatu
kondisi dimana benih tidak berkecambah meskipun kondisi lingkungan mendukung
untuk terjadinya perkecambahan. Oleh karena itu diperlukan teknik khusus untuk
mematahkan dormansi tersebut.
Mangoensoekarjo dan Semangun (2005)
menyatakan pemecahan dormansi benih kelapa sawit dapat dilakukan pada suhu 40
ºC selama 80 hari. Pemberian oksigen berkonsentrasi tinggi dapat membantu
perkecambahan jika diberikan selama atau setelah proses pemanasan.
Menurut Haryani (2005) dormansi
benih kelapa sawit disebabkan adanya penghalang berupa struktur penutup di
germpore yaitu operculum
Pemecahan dormansi yang digunakan Pusat Penelitian
Kelapa Sawit (PPKS) yaitu pemanasan benih pada suhu 40 °C selama 60 hari.
Ruangan pemanas dilengkapi dengan kipas angin, thermograph, sinko, dan heater.
Fungsi heater adalah untuk menyemburkan panas secara otomatis sedangkan
thermograph berfungsi sebagai alat perekam suhu ruangan yang bekerja secara
berkesinambungan pada proses pemecahan dormansi. Sinko berfungsi sebagai alat
kontrol, apabila suhu lebih dari 40 °C maka alat ini akan bekerja mematikan
heater dan menghidupkan kipas angin.
Hasil penelitian PPKS menunjukkan
dormansi benih kelapa sawit sudah dapat dipatahkan dengan pemanasan selama 60
hari, dikombinasikan dengan perendaman dan pengeringan sebelum dan setelah
perlakuan pemanasan. Hal ini dibuktikan bahwa dengan perlakuan tersebut
persentase daya berkecambah benih kelapa sawit PPKS tahun 2007 adalah 83.4 %
(Arif, 2008).
Kegiatan pematahan dormansi di PPKS
adalah perendaman I selama 7 hari, pengeringan selama 24 jam, dilanjutkan
dengan pemanasan selama 60 hari. Setelah dipanaskan selama 60 hari dilakukan
perendaman kedua selama 3 hari dan pengeringan selama 5 jam. Perendaman
berfungsi untuk mencuci zat-zat yang menghambat dan melunakkan buah atau kulit
benih dan pengeringan dimaksudkan untuk mengurangi kadar air benih sehingga
benih aman untuk diproses lebih lanjut serta terhindar dari serangan hama dan
penyakit (Haryani, 2003; Sukarman dan Hasanah, 2003). Perlakuan pemanasan
bertujuan untuk mematahkan dormansi benih kelapa sawit. Dengan pemanasan
diharapkan operculum menjadi retak sehingga benih dapat berkecambah. Setelah
proses pemanasan selesai benih siap dikirim ke ruang pengecambahan.
4.
Melinjo
Dari
7 buah biji melinjo yang disemai dan telah diperlakukan dengan baik sesuaidengan
prosedur kerja yang telah diajarkan oleh dosen pembimbing dan dengan penyiraman
yang teratur biji-biji ini tidak ada satupun yang berkecambah sehingga daya
kecambahnya adalah 0 %.
Permasalahannya
adalah biji melinjo membutuhkan waktu yang lama untuk bisa berkecambah sedang
waktu pengamatan yang kami lakukan hanya 3 minggu.
Biji
melinjo pada umumnya mulai berkecambah 6 bulan setelah ditanam (disemai), dan
persentasenya sangat rendah yakni 1% -2%. Makin lama, persentase yang
berkecambah makin naik, biasanya setelah 12 bulan hampir semua biji
berkecambah, hanya beberapa saja yang baru bekecambah setelah 14 bulan. Bila
ada biji yang tidak mau berkecambah
setelah sekian lama berada di persemaian, kemungkinan biji itu tidak memiliki
embrio da hanya memiliki endisperm.
Perkecambahan
biji melinjo selain memakan waktu lama juga tidak serentak (maksudnya bertahap)
sehingga diperoleh bibit yang umur dan pertumbuhannya tidak seragam. Karena lama
di persemaian, biji dapat terserang mikroorganisme sehingga bibit yang
diperoleh tidak sesuai dengan yang diharapkan.
Bahwa
perkecambahan biji dimuli 6 bulan setelah disemai, itu tidaklah mutlak karena
perkembangan embrio dari biji yang telah masak ternyata bervariasi sewaktu
lepas dari pohonnya. Dapat terjadi biji berkecambah selama 3-4 bulan di
persemaian, tetapi hal ini jarang sekali terjadi dan persentasenya sangat
rendah yakni kurang dari 1 %.
5.
Mangga
Biji
mangga yang kami tanam tidak tumbuh dan daya kecambahnya adalah 0%. Perlakuan
yang kami berikan sudah sesuai dengan prosedur kerja dan sesuai dengan
bimbingan dosen pembimbing. Menurut pengamatan kami biji ini tidak tumbuh
karena proses pematangan buah yang belum sempurna sehingga biji yang dihasilkan
belum matang dan tidak bisa tumbuh saat disemaikan. Biji mangga pada kelompok
masih agak lunak dan kisut.
KESIMPULAN
Dorman
artinya tidur atau beristirahat. Para ahli biologi menggunakan istilah
itu untuk tahapan siklus hidup, seperti biji dorman, yang memiliki laju
metabolisme yang sangat lambat dan sedang tidak tumbuh dan berkembang.
Dormansi adalah masa istirahat biji
sebelum berkecambah.
Cara-cara
yang dapat dilakukan untuk pematahan masa dormansi :
à
Perlakuan secara mekanis
: dengan cara mengupasnya, membuang
daging buah dan mencucinya setelah itu dijemur.
àSecara
Kimia
: dengan cara merendamnya dalam
larutan H2SO4 atau
IAA.
Dari percobaan dan pengamatan yang
telah kami lakukan terhadap bawang merah, jeruk, sawit, melinjo dan mangga,
tanaman yang paling mudah tumbuh/berkecambah adalah bawang merah karena
kulitnya yang tipis dan mengandung air. Kemudian jeruk yang daya kecambahnya
72.73%.
Sedangkan
biji mangga dari percobaan kami tidak tumbuh karena biji nya yang tidak bagus
dan pematangan yang belum sempurna.
Biji
melinjo dan sawit belum berkecambah karena kedua komoditi ini membutuhkan waktu
yang lama untuk berkecambah sedangkan waktu yang kita gunakan untuk mengamati
hanya 3 minggu.
DAFTAR
PUSTAKA
Elita.Nelson.Anidarfi.Darmansyah.
2013. BKPM Dasar-Dasar Agronomi.
Payakumbuh. Politeknik Pertanian Negeri
Payakumbuh.
Herdy F.Bagus. 2011. Praktis bertanam bawang merah secara organik.
Bandung. Angkasa Bandung.
Sunanto.Hatta. 1991. Budidaya Melinjo dan Usaha Produksi Emping.
Yokyakarta. Kanisius (Anggota IKAPI)
Aak. 1994. Budidaya Tanaman Jeruk. Yokyakarta. Kanisius (Anggota IKAPI)






Tidak ada komentar:
Posting Komentar